Tiga Terduga Teroris, Ada yang Guru PNS dan Amir di Probolinggo

by
Rumah terduga teroris berinisial F, di Perumahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Setelah sempat singgah sebentar di Mako Polres Probolinggo Kota, akhirnya tiga terduga teroris Sumbertaman dibawa ke Polda Jawa Timur. Dari Polresta, mereka berangkat setelah melakukan manak sahur, dibawa dengan kendaraan yang dikawal ketat aparat. Rencananya, mereka akan diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani sejumlah pemeriksaan, terkait dengan aksi teror.

Hal tersebut disampaikan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal, Kamis (17/5) sekitar pukul 11.00 WIB di kantornya. Dalam kesempatan itu, Kapolres kelahiran Sumenep Medura ini juga menyebut, kalau salah satu terduga berinisial H, seorang PNS yang mengajar Bahasa Inggris di sebuah SMKN di Kabupaten Probolinggo. Setahun yang lalu, sempat mengajukan surat pengunduran diri dari PNS. Hanya saja belum diketahui, apakah suratnya sudah direspon oleh dinas terkait atau tidak.

Kapolresta mengaku tidak mengetahui, mengapa H melakukan hal tersebut. Keterangan yang didapat dari penyidik Densus 88 yang dilaporkan ke Kapolresta menyebut, kalau terduga F sebagai Amir. Ia pemimpin kelompok yang ada di Probolinggo. Sementara H, menurut Kapolresta, sudah menyiapkan melakukan serangkaian amaliyah.

Amaliyah tersebut bukan hanya melakukan bom bunuh diri, tapi bisa juga tindakan lain dengan tujuan melukai target, baik dengan cara menusuk, bom bunuh diri, atau menembak mati target. Soal kapan dan dimana akan dilakukan amaliyah, Kapolresta mengatakan, belum mengetahui. Pihak Densus saat ini masih memintai keterangan terduga teroris.

“Kami belum mendapatkan keterangan. Mereka masih diperiksa. Soal pengembangan, kami menunggu hasil pemeriksaan Densus 88.,” tandasnya.

Sementara itu Sukirno, tetangga dekat terduga inisial H dan F mengatakan, kegiatan kesehariannya di Mushalla dan tempat belajar mengajar adalah soal keagamaan, seperti pengajian dan belajar ngaji untuk TK dan PAUD. Ia juga menjelaskan, kalau H selain berprofesi sebagai pengobatan becham, juga sebagai pengajar salah satu sekolah di Kabupaten.

“Tertutup kalau ke warga. Kalau ke keluarga saya, terbuka. Maksudnya terbuka bukan soal agama loh,” ujar Kirno.

Tentang latihan perang, Sukirno mengatakan tidak tahu. Hanya saja ia sering melihat kalau terduga sering latihan menembak dan memanah. Latihannya terkadang di rumahnya sendiri, terkadang di depan rumahnya. Kirno tidak tahu, apakah latihan memanah dan menembak itu untuk keperluan yang lain atau hanya sekedar melatih ketrampilan, Kirno tidak tahu.

“Ya sering latihan nembak dan memanah. Mungkin hanya untuk keterampilan, bukan untuk yang lain,” tambahnya. .

Terpisah Yuli Sriasih, Kepala Cabang Dinas Probolinggo, mengaku sudah mengetahui kalau H salah satu pengajar SMK di wilayahnya ditangkap polisi. Bahkan, ia mengatakan, sudah memberitahukan ke Dinas Pendiiidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Mengenai langkah yang mau diambil Diknas Provinsi, ia tidak mengetahui.

“Kami sudah mendengar, bahkan sudah melapor ke Provinsi. Kami sekarang menunggu surat dari sekolah, tempatnya mengajar,” ujarnya singkat ke sejumlah wartawan. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *