Tak Puas dengan Sistem Baru, Puluhan Pengemudi Go-Car Lurug Kantor Gojek

by
Puluhan pengemudi Gocar saat ngelurug kantor Gojek di Ruko Panglima Sudirman, Kota Probolinggo, Kamis (19/4/2018). (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Puluhan pengemudi Go-car ngelurug kantor Gojek di Ruko Panglima Sudirman, Kota Probolinggo, Kamis (19/4/2018) sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka mendatangi kantor Gojek online, karena keberatan dengan perubahan sistem bagi hasil atau pendapatan yang diberlakukan sejak Selasa (17/4) atau tiga hari lalu.

Mereka menuntut sistem penghasilan dikembalikan ke awal, karena sistem bagi hasil yang baru merugikan. Tak hanya itu, mereka terancam tidak dapat lagi bermitra dengan Gojek, lantaran dikeluarkan karena target point tidak terpenuhi. Jika tuntutannya tidak terpenuhi, mereka mengancam akan melanjutkan mogok kerja atau tidak mencari penumpang dan mematikan aplikasi Go-car di selulernya.

Selain itu, mereka juga mengancam akan pindah (eksodus) ke aplikasi lain. Seluruh anggota Go-car yang berjumlah 60 orang tidak akan bermitra dengan Gojek lagi. Mereka mengancam akan pindah ke transportasi berbasis online, tetangga. Hal tersebut disampaikan Muhammad Ilman, koordinator gocar. “Ya, jika permintaan kami tidak dikabulkan, kami akan eksodus dan bermitra dengan aplikasi sebelah,” tandasnya.

Dijelaskan, perlawanan terhadap aturan baru tersebut sudah dilakukan. 60-an sopir gocar sudah tiga hari mogok kerja alias tidak melakukan aktivitas mengantar penumpang. Yakni, pada Selasa (17/4) lalu hingga mereka ngluruk ke kantor Gojek, Kamis (19/4). Jika pertemuan dengan menejemen tidak ada hasil kata sepakat, maka mereka akan melanjutkan mogok kerja. “Tiga hari itu dimanfaatkan sopir yang bermitra dengan aplikasi sebelah. Ya karena kami mogok kerja,” tambahnya.

Hal tersebut dilakukan, karena gojek memberlakukan sistem bagi hasil yang mencekik mitranya. Di aturan baru itu, setiap mitra Gocar diwajiblan mendapat point sebanyak 18 trip, sementara sebelumnya ditarget hanya 12 point. Anehnya, point dinaikkan, sedang penghasilan yang didapat mitra Gocar justru diturunkan. Dari Rp 300 ribu jika 12 trip terpenuhi, diturunkan menjadi Rp 220 ribu dari target 18 trip yang ditargetkan per hari. “Mestinya, kalau point dinaikkan, maka penghasilan juga dinaikkan. Kok malah bagi hasil kami diturunkan,” tandasnya.

Mestinya, lanjut M Ilman, point dengan bagi hasil berbanding lurus, bukan berbanding terbalik seperti yang diberlakukan saat ini. Ia dan mitra gocar yang lain mengaku keberatan dengan target 18 point sehari. Jangankan point sebesar itu, 12 point seperti sebelumnya saja, mereka harus kerja keras untuk memenuhi. Bahkan, terkadang mereka tidak memenuhi target 12 point. “Ya, kalau tidak memenuhi point, kami tidak dapat premi atau bonus penghasilan,” ujar M Ilman yang diangguki mitra gocar yang lain.

Dalam kesempatan itu, M Ilman juga mengatakan akan pindah ke aplikasi transportasi yang lain, jika tuntutan kembali ke aturan awal tidak dikabulkan. Karena dipaksa bagaimana pun, target 18 point tidak akan terpenuhi, dan jika tidak terpenuhi mereka akan dikeluarkan dari mitra gocar. Jika target point tidak terpenuhi, maka mereka tidak akan mendapat premi atau bonus penghasilan setiap hari. “Lantas kita mau makan apa. Loh teman-teman ini, ada yang mobilnya setoran. Ada juga yang masih memiliki tanggungan kredit kendaraannya setiap bulan. Kalau tidak ada penghasilan, lantas apa yang mau dibayarkan,” pungkasnya yang diangguki yang lain.

Sementara itu, pimpinan mitra Gojek Probolinggo, Novel, enggan berkomentar banyak. Sebab menurutnya, keputusan tentang tuntutan mitra gocar-nya bukan kewenangannya, melainkan kewenangan gojek pusat. Dan aturan baru tersebut, tidak hanya diberlakukan di Kota Probolinggo, tetapi seluruh Indonesia. “Bukan kewenangan kami. Tapi pusatlah nantinya yang menjawab,” tandasnya.

Pihaknya akan menyampaikan tuntutan mitranya ke gojek pusat secepatnya. Saat ditanya, bagaimana nantinya jika tuntutan mitra gocar tidak dipenuhi dan mereka akan melakukan eksodus ke aplikasi lain. Novel menegaskan, tidak masalah karena hal tersebut hak masing-masing mitra gocar.

“Ya, nggak apa-apa. Itu kan hak mereka. Kami hanya bisa menyampaikan tuntutan mereka ke gojek pusat. Kami menunggu putusan. Dan kalau putusan dari pusat datang, kami akan sampaikan ke teman-teman mitra gojek,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *