Tak Ingin Ada Korban Miras, Ini 6 Item Kesepakatan Forpimda Kota Probolinggo

by
Kapolresta Probolinggo, AKBP Alfian Nurrizal terjun langsung mensosialisasikan dan menempelkan 6 butir kesepakatan Forpimda terkait Miras oplosan, ke sejumlah pemilik toko, apotik, toko bangunan. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Banyaknya korban akibat nenggak Miras oplosan, membuat Polres Probolinggo Kota, gerah. Polres yang dipimpin AKBP Alfian Nurrizal, tidak ingin korban bergelimpangan di daerah lain, menular di wilayahnya. Pada Rabu (25/4/2018) siang, Polresta membuat kesepakatan dengan Forpimda.

Acara yang mengambil tempat di Hotel Bromo Park tersebut, selain dihadiri Walikota, Ketua DPRD setempat, Kapolresta, Dandim 0820, Kepala Kejaksaaan Negeri, Kepala Pengadilan Negeri dan instansi terkait lainnya. Acara tersebut juga dihadiri Ketua DP MUI, Perwakilan Apotik dan Perwakilan Pengusaha Toko Bangunan. Turut diundang, lima Camat, 29 Lurah dan ibu-ibu PKK.

Hampir 2 jam mereka menggodok dan merumuskan kesepakatan bersama. Hasilnya, ada 6 item kesepakatan yang harus diikuti dan ditindaklanjuti serta ditaati. Diantaranya, mewujudkan Kota Probolinggo bebas dari peredaran dan penggunaan miras oplosan. Kedua, menghimbau dan menekan masyarakat untuk tidak menjual, membeli dan menyalahgunakan alkohol dan spiritus.

Mendukung dan bekerjasama dalam memberantas serta mencegah penyalahgunaan dan peredaran miras oplosan. Menindak tegas penjual miras oplosan, Memperketat penjualan spiritus dan alkohol dengan cara meminta identitas diri kepada pembelinya dan tidak menjual kedua bahan kimia tersebut kepada anak usia dibawah 18 tahun. Penjual harus menjelaskan ke pembeli, bahaya spiritus dan alkohol jika diminum.

Usai merumuskan kesepakatan, Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal langsung turun ke sejumlah apotik atau toko obat dan toko yang menjual bahan bangunan. Kapolresta yang didampingi Satker terkait menyampaikan hasil kesepakatan, sekaligus menempelnya. Kepada pemilik toko, Kapolrtesta meminta untuk selektif mungkin terhadap pembeli yang akan membeli spiritus dan Alkohol. “Tanyakan dulu ya, untuk apa membeli alkohol dan spiritus,” pinta Kapolresta.

Bahkan, penjual atau pemilik toko harus menanyakan kartu identitas, dan jika perlu, dicatat alamatnya. Kalau diketahui tidak memiliki KTP dan pembeli yang usianya dibawah 18 tahun, hendaknya tidak dilayani. Jika mereka bertanya, pemilik toko harus menjelaskan dan jika mereka ngotot, maka pembeli diminta membaca kesepakatan yang dihasilkan Forpimda.

“Makanya, kami tempel di sini. Kalau ada pembeli yang nanya, dipersilahkan saja membaca kesepakatan ini,” tandasnya .

Usai menempel kesepakatan, AKBP Alfian mengatakan cara yang dilakukan adalah salah satu antisipasi dan meminimalisir penyalahgunaan alkohol dan spiritus. Sebab menurutnya, kedua bahan kimia cair tersebut sering dicampur dengan arak atau miras lainnya. Lantaran sang pencampur tidak paham dan mencampurnya mengabaikan takaran, dampaknya ke si peminum.

“Sudah banyak korban yang meninggal akibat miras oplosan. Meski di sini belum ada, patut diwaspadai dan diantisipasi,” tandasnya.

Alfian tidak memungkiri di wilayahnya belum diketahui penjual Miras oplosan. Namun, pengguna atau peminum miras oplosan sudah ada, namun belum ada korban jiwa. Mereka kebanyakan mencampur sendiri miras dengan barang berbahaya seperti alkohol, spiritus, dan pil koplo, bahkan dengan obat nyamuk.

“Makanya kami antisipasi sebelum ada kejadian. Kegiatan ini, salah satu bentuk perhatian dan tindakan preventif kami,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *