Soal Hubungannya dengan Terduga Teroris, Ketua Yayasan: “Kami Sempat Berselisih”

by
Roni, Ketua Yayasan Khadimul Ummah (nggak pakai topi), saat bertemu dengan Komisi 1 DPRD, Disdikpora, dan Kemenag. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Ketua Yayasan Khadimul Ummah Roni Riyanto mengaku, terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 beberapa waktu lalu, bukan pengurus Yayasan. Tetapi diantara mereka, ada yang mengajar di lembaga Tapas-nya. Setahun sebelumnya, ia sempat berselisih dengan salah satu terduga, karena telah mengajari siswa diluar kurikulum Tapas.

Pengakuan ini disampaikan pria kelahiran Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan ini, saat ditanya soal hubungan lembaga pendidikan dengan terduga teroris yang diamankan Densus 88, saat pertemuan pihak Yayasan dengan Komisi 1 DPRD, Disdikpora, dan Kemanag yang berlangsung di masjid At-Tauhid, jalan Taman Puspa Indah, Perumahan Sumbertaman (STI), Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Rabu (30/5/2018) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Disebutkan Roni, karena mengajari siswa diluar kurikulum Tapas, pengajar tersebut sudah diberhentikan. Di ajaran baru ini, mereka sudah tidak mengajar lagi. Hanya saja, terduga keburu ditangkap Densus 88. Terduga di Yayasan, diberi tugas mengetik dan mempersiapkan Buletin mingguan untuk dibagikan di masjid-masjid. Namun belakangan, ia mengajari menembak pada siswa, padahal menurut Roni pelajaran atau pelatihan seperti itu, tidak ada di kurikulum.

“Kami sempat berselisih. Dan kemarin sudah diberhentikan untuk tidak ngajar di sini lagi. Kalau latihan memanah ada. Itu kan sunah Nabi untuk mengajarkan konsentrasi dan keseimbangan tubuh,” tambahnya.

Sedang terduga teroris lainnya mengajar Tahfid Al-Qur’an atau membaca (mengaji) Al-Qur’an. Roni mengaku tidak tahu, apakah murid atau santrinya juga diajari pelajaran di luar kurikulum oleh terduga teroris. Yang jelas lembaga pendidikan yang dikelolanya, tidak ada yang menjadi pengajar mata pelajaran kurikulum. Apalagi, sudah satu tahun lebih, terduga teroris sudah memisahkan diri atau keluar dari Yayasan.

“Mereka tempat tinggalnya, dekat dengan tempat pembelajaran kami. Mereka sering ke sini. Masak saya mau ngusir,” tandasnya.

Diakui, dalam perjalanan mengelola Yayasan, dirinya dan pengurus Yayasan yang lain ada perbedaan pendapat atau perbedaan faham. Karenanya, terduga teroris kemudian keluar dari kepengurusan Yayasan, namun terkadang mereka masih ke masjid At-Tauhid milik yayasan.

“Gimana ya, akhirnya kami harus cerita. Memang ada dua kubu di sini. Akhirnya, pecah dan sekarang, kami saja yang menjadi pengurus yayasan. Terduga, sudah tidak lagi,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *