Sesuai Intruksi Walikota, Dinsos Akan Turun ke Keluarga Terduga Teroris

by
Rumah terduga teroris berinisial H, di Perumahan Sumbertaman Indah, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Jika sebelumnya Pemkot Probolinggo menunggu putusan Polresta untuk membantu keluarga korban terduga teroris, kini tak lagi berpedoman hal tersebut. Pemkot akan segera menggelontorkan bantuannya. Hanya saja belum diketahui bentuk dan jenis bantuannya. Apakah berbentuk bantuan sosial, ekonomi, atau pendampingan dalam rangka mengembalikan traumanya.

Rencana itu disampaikan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Zainullah, Senin (21/5/2018) siang usai menghadiri rapat Dewan Ketahanan Pangan di ruang Sabha Bina Praja, Kantor Walikota. Menurutnya, meski dirinya tidak hadir dalam rapat koordinasi (Rakor) yang membahas soal langkah Pemkot terhadap keluarga terduga teroris, namun pihaknya akan segera menemui keluarga terduga.

Pihaknya akan mendata dan menginventarisir kebutuhan serta trauma yang dialami pasca penangkapan orang tuanya. Dinsos bersama instansi terkait lainnya, bersama-sama akan menemui keluarga terduga mulai Selasa (22/5/2018).

“Ya, mulai Selasa, tim kami akan ke Sumbertaman. Kami tidak berdiam diri, apalagi menyangkut sisi kemanusiaan. Bagaimanapun, itu warga kami,” tandasnya.

Sambil timnya jalan ke lapangan, pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan Polresta. Pasalnya, apa yang dialami keluarga korban terduga teroris tidak sama atau berbeda penanganannya dengan warga yang lain. Jika nantinya Polresta merestui apa yang dilakukan, maka Pemkot akan segera menggelontor bantuan tersebut.

“Tergantung kebutuhan di lapangan. Kalau kondisi ekonomi perlu dibantu, kita akan bantu sembako. Jika soal pendidikan, maka Disdikpora yang menangani. Kalau kesehatan, ya Dinkes yang turun,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora), M Maskur mengaku, belum mengetahui, apakah dari sekian anak terduga teroris ada yang sekolah atau tidak. Karena itu pihaknya akan terjun ke tempat tinggal terduga teroris, untuk mengetahui berapa anak yang belum sekolah.

“Kami belum tahu. Apakah ada yang tidak sekolah. Kami akan telusuri dan kami tanyakan, mengapa tidak sekolah. Apakah faktor ekonomi atau penyebab lainnya,” tandasnya.

Kalau misalnya orang tuanya tidak mau menyekolahkan anaknya di pendidikan umum, dengan berbagai alasan. Disdikpora akan mencari formula agar mereka mau menyekolahkan anaknya di pendidikan umum. Jika tetap tidak mau dengan alasan paham berbeda, Disdikpora tidak dapat berbuat banyak.

“Makanya kami akan telusuri dulu. Kalau tidak sekolah dengan alasan tidak punya biaya, ya kita bantu dan bujuk agar mau sekolah di pendidikan formal. Pendidikan mereka kan tanggung jawab negara,” terang pria yang akrab disapa Maskur tersebut.

Jika misalnya mereka bersedia sekolah, namun bukan di negeri, sekolah swasta milik Yayasan, Maskur mengaku, tidak bisa memaksa. Pihaknya tetap akan memberi bantuan dengan catatan akan menelusuri dan mencari tahu Yayasan tempatnya belajar. Dengan demikian, Disdikpora hanya bisa membantu sekedarnya.

“Kalau sekolah di yayasan bantauannya tidak banyak. Yang penting mereka bisa sekolah dan kami akan membantu sesuai aturan pemerintah,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *