Sawah Menyempit, Defisit Pangan di Kota Probolinggo Dipasok dari Daerah Lain

by
Walikota Probolinggo Hj Rukmini, saat memimpin rapat ketahanan pangan, Senin (21/5/2018) siang di Shaba Bina Praja, Kantor Walikota. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Kota Probolinggo setiap tahun kekurangan atau defisit pangan, terutama beras. Untuk 2017, Kota yang dipimpin Hj Rukmini ini kekurangan beras sebanyak 11.889 ton. Hanya saja, kekurangan tersebut sudah dipenuhi dengan mendatangkan atau membeli beras dari daerah lain, terutama daerah sekitar Kota Probolinggo.

Kekurangan pangan tersebut diungkap Sekrtetaris Kota, dr Bambang Agus Suwiknyo, Senin (21/5/2018) siang di Shaba Bina Praja, Kantor Walikota. Dalam acara rapat Dewan Ketahanan pangan tersebut, Sekdakot menjelaskan, defisit pangan akan terus membesar atau bertambah sejalan dengan berkurangnya lahan pertanian.

Menurutnya, data 2017 lahan pertanian atau luas baku sawah 1.792,5 hektar dan produksi beras yang dihasilkan 9.235 ton per tahun. Sedang kebutuhan beras untuk rumah tangga dan non rumah tangga sebanyak 21.124 ton. Dengan demikian, defisit atau kekurangan beras sebanyak 11.889 ton setiap tahun.

“Kekurangan itu, kami cukupi beras dari daerah lain. Meski kami kekurangan, tapi tidak menjadi mssalah,” tandasnya.

Dalam kesempatan ittu, Bambang Agus juga menyampaikan ketersedian pangan di bulan puasa dan menjelang lebaran, tercukupi. Ia juga menyebut, menjelang Ramadlan tahun ini sempat terjadi kenaikan harga daging ayam. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan bisa diatasi setelah Satgas Pangan melakukan sidak ke sejumlah pasar dan penyuplai atau distributor ayam pedaging.

“Sudah kami atasi. Harganya sudah kembali ke semula, yakni Rp 34 ribu sampai Rp 35 ribu per kilonya,” tambahnya.

Karenanya, ketersediaan pangan di wilayahnya masuk status waspada ditandai dengan warna kuning. Hal tersebut dipengaruhi oleh prosentase luas tanam bulan berjalan dibanding rata-rata luas tanam bulan bersangkutan 5 tahun dan luas puso berkurang. Sedang tingkat akses pangan masuk dalam status aman dengan warna hijau.

“Indikator yang mempengaruhi, prosentase rata-rata harga bulan berjalan komuditas beras dibanding dengan rata-rata harga 3 bulan terakhir,” pungkas Bambang Agus yang juga sebagai Ketua Dewan Ketahanan Pangan.

Rapat dewan ketahanan pangan dipimpin Walikota Hj Rukmini diikuti dinas terkait seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Susial Dinas PU dan Perumahan Rakyat, Bulog, Kodim 0820. Badan Pusat Statistik, Dishub dan dinas terkait lainnya serta lima camat. Dalam kesempatan itu, Walikota akan mengeluarkan larangan penggunaan lahan pertanian untuk perumahan. Mengingat, luasan lahan pertanian dari tahun ke tahun terus berkurang.

“Kami akan menerbitkan Perwali larangan pembukaan perumahan baru yang menggunakan lahan pertanian,” tandasnya.

Hal itu dimaksudakan, agar produksi beras di wilayahnya tidak berkurang dari tahun ke tahun. Hanya saja, belum diketahui, kapan Perwali tersebut akan diundangkan atau disahkan.

Sementara dari Bulog melaporkan, ketersediaan beras aman hingga Desember mendatang. Bulog juga siap membantu Pemkot untuk melakukan operasi pasar, guna menstabilkan harga sembako.

“Kami siap membantu operasi pasar. Saat ini secara internal sudah melakukan ooperasi pasar, agar sembako tidak melonjak harganya. Kami menjual sembako di kantor kami,” ujarnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *