Saluran Ditutup Karena Ada Proyek, Petani Protes Kekurangan Air

by
Karena saluran air ditutup, Belasan petani Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Kamis (4/5/2018) sekitar pukul 08.00 WIB, mendatangi pekerja proyek di barat Sungai Umbul. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Belasan petani Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Kamis (4/5/2018) sekitar pukul 08.00 WIB, mendatangi pekerja proyek di barat Sungai Umbul (Eratex). Mereka meminta aliran air yang ditutup dibuka, Menghingat petani butuh air untuk tanam padi dan membajak sawahnya.

Hanya saja, permintaan Petani yang memiliki sawah di Jalan Anggrek, tidak dikabulkan. Alasannya, kalau saluran dialiri air, tukang tidak bisa bekerja dan dinding penahan saluran ke sawah petani yang sudah dibangun atau selesai, akan ambrol. Meski tuntutannya tidak dikabulkan, adu argumentasi tersebut tidak sampai ke adu fisik.

Para petani memilih menjauh dari lokasi proyek, sebab suara mereka sudah diwakilkan ke Ketua Kelompok Tani Sumber Tani, Misnaji. Dijelaskan, pihaknya bersama pengawas tukang sudah bersepakat, petani akan dibuatkan jalan air di sebelah proyek.

“Kan ada sisa tanah di barat saluran. Disitu saluran airnya akan dibuat. Jadi tidak mengganggu proyek. Tapi penggalian saluran, pihak proyek minta bantuan tenaga ke petani,” ujarnya.

Suharto (52), salah seorang petani yang mendengar ajakan kerja bakti membuat saluran air baru, langsung menolak. Mengingat, pekerjaan tersebut tanggungan dan kewajiban pemilik proyek. Petani tidak ingin dirugikan dua kali.

“Kami kebingungan air, karena salurannya ditutup. Kok malah kami disuruh kerja bakti. Enggak, kami gak mau, karena membuat saluran kewajiban proyek,” ujarnya yang diamini petani lain.

Karena ditutup itulah, Suharto bersama petani yang lain merugi. Pekerja (buruh) tanam padi yang ia datangkan hari itu, tidak bisa bekerja. Mereka terpaksa pulang sebelum waktunya, Lantaran dirinya tidak dapat menyediakan bibit padi.

“Kami enggak bisa nyabut bibit padi. Ya, karena tidak ada air. Lahan kami yang mau ditanami padi mengeras. Bibit padi tidak bisa ditanam ke lahan yang mengeras. Ya, lahan harus berbentuk lumpur,” tambahnya.

Hal senada juga diungkap Hamid (60) petani asal Kelurahan setempat. Ia mengaku habis Rp 7 juta, untuk pengolahan sawah dan biaya tanam padi. Hamid khawatir, padi yang ditanam dua hari lalu, mati akibat kekurangan air.

“Kalau baru ditanam, butuh air setiap hari. Kalau tidak seperti itu, padi saya mati. Kalau mati, siapa yang bertanggungjawab. Rp 7 juta plus tenaga saya,” katanya.

Karenanya, ia dan petani lain meminta, pintu saluran yang ditutup dibuka kembali. Hamid juga menyesalkan dengan pemilik proyek, sebab sebelumnya petani tidak diberi tahu, kalau saluran air ke sawahnya akan diperbaiki. Seandainya ada sosialisasi, ia dan petani yang memiliki sawah di barat sungai umbul, akan menanam padi setelah proyek selesai atau saluran yang baru bisa dialiri air. “Enggak ada sosialisai blas,” pungkasnya yang diangguki petani yang lain.

Sementara itu, Kepala tukang Ali Usman (55) warga Ketapang, Kecamatan Kademangan mangaku, awalnya tidak menutup aliran. Petani masih bisa mengairi sawah, kendati saluran air yang diberikan tidak sebesar seperti sebelumnya. Saluran dibagi menjadi dua, satu untuk jalur air, sedang sisanya dipakai tempat tukang bekerja dan menumpuk bahan.

“Kemarin ada salurannya. Kami tutup, karena air yang mengalir diperbesar oleh petani. Akibatnya, bangunan rusak alias ambrol,” tandasnya.

Karena petani butuh air, Ali berjanji dalam dua minggu kedepan, irigasi yang dibangunnya bisa dilalui air seperti biasanya. Namun, pembangunan irigasinya belum selesai 100 persen. Sebab, menurutnya, jika pembangunan dinding penahan sudah agak tinggi, air bisa lewat dan tidak merusak bangunan. “Kami janji dua minggi, air lancar lagi. Biar kami bekerja diatas air. Yang penting, petani tidak kekurangan air,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan), Sukarning Yuliastutik mengatakan, sudah ada jalan keluar mengatasi permasalahan tersebut. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan sudah bertemu dengan rekanan serta petani. Disepakati, aliran air disiasati menggunakan seng.

“Kita sudah sepakat, aliran air menggunakan seng. Proyek jalan, air mengalir. Petani tidak lagi kekurangan air,” tandasnya singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *