Reka Ulang Kasus Teroris, Tersangka Peragakan Adegan di Dua Lokasi

by
Tersangka saat memperagakan beberapa adegan dalam reka ulang yang digelar di dua lokasi, Rabu (25/4/2018). (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Masih ingat kasus yang menimpa Muhammad Lutfiyanti (23) pertengahan Februari lalu. Lelaki yang tinggal di Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, telah ditetapkan menjadi tersangka, karena diduga terlibat jaringan teroris. Pada Rabu (25/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB, kasusnya direkontruksi.

Menggunakan baju tahanan oranye yang di dada kiri bertuliskan Tahanan Densus 88. Lutfi memperagakan 44 adegan. Di tempat pertama, yakni di Kantor Sarpras (dulu kantor Satlantas) Jalan Brantas, Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan, ada 20 adegan yang harus diperagakan. Sedang di lokasi ke dua, yakni di jalan dr Muhammad Saleh, depan Mapolresta, pria beranak satu ini memperagakan 24 adegan.

Pada adegan pertama di kantor Sarpras (Sarana dan Prasarana), adegan dimulai, Lutfi mengendarai sepeda motor matic dari arah selatan di jalan Brantas. Di depan kantor Sarpras, agak ke selatan atau tepatnya di depan toko pracangan, ia berhenti dan dari atas sepeda motornya, ia mengawasi kantor Sarpras. Mengetahui ada petugas keluar, Lutfi yang saat rekonstruksi diikuti sejumlah penyidik Densus 88 berpakaian preman, tancap gas.

Polisi yang keluar dari kantor Sarpras kala itu bernama Adi Wijaya yang diperankan orang lain. Lutfi kemudian menstarter motornya dan mengejar Adi, namun karena kalah cepat, pengejaran tidak dilanjutkan. Tersangka kemudian melakukan pemantauan di Mapolresta, jalan dr M Saleh. Lutfi tiba di Mapolresta dari arah utara dan sempat berhenti beberapa kali di depan Mapolresta sambil mengawasi lalu-lalang dan gerak-gerik polisi.

Ia kemudian berhenti di jalan sisi timur, utara TK Bhayangkari. Dari atas sepeda motornya, ia beberapa kali menoleh untuk mengawasi petugas di pos penjagaan. Lutfi kemudian memarkir kendaraannya, lalu ia duduk di trotoar sambil mengawasi aktifitas di halaman Mapolresta. Lantaran mencurigakan, tiga petugas berpakaian preman mendekati Lutfi. Karena ditanya jawabannya ngelantur, petugas kemudian menggeledah tubuhnya, lalu meminta kontak sepeda motornya.

Setelah dibuka jok sepeda motornya, petugas menemukan sebilah pedang. Oleh petugas, Lutfi kemudian digelandang ke Mapolresta, berikut dengan kendaraan roda duanya. Nah, sampai disitu adegan reka ulang yang diperankan tersangka dan dibantu petugas yang berperan sebagai saksi.

“Ada 20 adegan di lokasi pertama. Kalau di sini 24 adegan. Kami hanya menyaksikan. Yang mereka-ulang dari Densus 88,” ujar Kapolresta usai rekonstruksi di Mapolresta.

Dijelaskan, Luthfi adalah tersangka yang diduga terlibat jaringan teroris dan ditahan di Densus 88. Kedatangannya ke Kota Probolinggo untuk reka ulang kejadian sehingga dirinya diciduk petugas saat mengawasi Mapolresta. Sebelum ditangkap, yang bersangkutan dua kali mengawasi gerak-gerik polisi di kantor Sarpras Kademangan. Ia mengira kalau Kantor Sarpas tersebut, Mapolresta.

“Tujuannya untuk menyerang polisi. Bahkan membunuhnya. Karena ia menganggap polisi, kafir,” tandasnya.

Setelah mendengar informasi Sarpas itu bukan Mapolresta, kemudian Lutfi mendatangi Mapolresta. Sebelum melakukan penyerangan ke kantor Polresta, pria yang diduga penganut JAT tersebut, memantau dan mengawasi Mapolresta dari depan. Sambil menunggu, ia menunggu waktu untuk melancarkan aksinya. Namun, kedahuluan ditangkap petugas.

“Karena anggota kami curiga, Lutfi didatangi. Setelah digledah, ditemukan sebilah pedang di motornya. Pengakuannya mau membunuh polisi,” pungkas AKBP Alfian. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *