Razia Lalin, Pelajar Belum 17 Tahun Tak Boleh Kendarai Sepeda Motor

by
Petugas memeriksa surat-surat kendaraan pengendara sepeda motor saat operasi patuh Semeru 2018. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Di hari ke dua belas Operasi Patuh Semeru 2018, Satlantas Polres Probolinggo Kota, berhasil menilang 1.600 pelanggar. Pelanggaran didominasi kendaraan roda dua. Dan 60 persen pelanggarnya adalah remaja dan pelajar.

Rata-rata mereka tidak dapat menunjukkan surat-surat kendaraan, termasuk surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, tidak memakai pengaman kepala (helm) dan sepeda motornya tidak sesuai spek alias protolan, serta knelpot brong.

Hal itu diungkap Kasatlantas AKP Alpogohan, Senin (7/5/2018), sekitar pukul 09.00 WIB, usai memimpin Operasi Patuh Semeru di Jalan Suyoso, tepatnya di batat Hotel Ratna. Dalam operasi pagi itu, petugas mengamankan belasan sepeda motor dan menilang puluhan pengendara yang melanggar lalu lintas.

Banyaknya ramaja atau pelajar yang ditilang, membuat AKP Alpogohan prihatin. Ia meminta orang tua serta pengajar (guru) untuk memperhatikan putra-putrinya, yang belum dewasa usia SMP, agar anaknya tidak diizinkan mengendarai sepeda motor saat sekolah maupun di luar sekolah (rumah).

“Sebaiknya ada kerjasama antara guru dengan orang tua. Anaknya yang dibawah 17 tahun tidak boleh mengendarai motor karena belum punya SIM,” harapnya.

Diharapkan, mereka yang masih duduk dibangku SMP untuk tidak mengendarai sepeda motor. Selain diantar, bisa naik angkutan kota yang sudah disediakan oleh Pemkot, yakni angkutan pelajar. Larangan tersebut, demi keselamatan pelajar dan mencegah membludaknya kendaraan bermotor, terutama di jam-jam sibuk, pagi siang dan sore hari. “Ini demi keselamatan kita bersama. Diantar atau naik angkutan pelajar saja,” pintanya.

Pihaknya akan terus melakukan operasi kendaraan, hingga Operasi Patuh Semeru 2018 berakhir 9 Mei 2018. Dengan banyaknya pelanggaran dapat diketahui, tingkat kesadaran masyarakan tentang berlalu lintas masih kurang. Padahal, pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi ke warga dan sekolah. Namun, pelanggaran lalu lintas masih banyak. “Kuncinya pada kesadaran. Sosialisasi hanya upaya,” tandasnya.

Selain itu, untuk menekan pelanggaran dan angka kecelakaan pihaknya juga melakukan sosialisasi di media sosial, himbauan langsung ketika mendapati pengendara tidak tertib berlalu lintas. Upaya tersebut juga disertai pembagian brosur atau stiker dan pemasangan baliho atau baner, yang mengajak tertib dijalanan dan mentaati rambu lalu lintas.

“Kami belum menemukan pengendara yang membawa senjata tajam atau obat-obatan terlarang,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *