Ramadhan, Tempat Hiburan di Probolinggo Diminta Tutup Hingga Usai Lebaran

by
Dandim 0820, Kapolres Probolinggo Kota, dan Ketua MUI Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Polres Probolinggo Kota meminta, Cafe dan tempat hiburan seperti karaoke, tutup. Utamanya disaat masyarakat menjalankan ibadah puasa. Mengingat, dua tempat tersebut menjadi tempat berawalnya sebuah kejahatan dan tindak kriminal lainnya. Karena disanalah para pelaku minum-minuman keras dan narkoba.

Hal tersebut ditegaskan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal, Senin (14/5/2018) sekitar pukul 11.00 WIB, saat bertemu sejumlah Forpimda, FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama, MUI, serta pelaku usaha, termasuk pengusaha tempat hiburan malam.

Acara Deklarasi dan Himbauan kamtibmas yang berlangsung di ruang Rupatama Sanika Satyawadana tersebut, juga dihadiri Kodim 0820.

Dalam sambutannya, AKBP Alfian meminta tempat hiburan malam seperti Pop City dan 888 (Triple Eight) yang beroperasi di wilayahnya, tutup hingga usai lebaran. Permintaan itu dilontarkan, agar tindak kejahatan dan tindak kriminal lainnya, berkurang. Selain itu, untuk menghortmati bulan piasa ramadlan.

“Karena dari tempat hiburan, tindak kejahatan berawal. Kami minta untuk ditutup,” pintanya, yang diangguki perwakilan managemen Pop City dan 888 yang menyempatkan diri hadir di acara tersebut.

Dalam kesempatahn itu, Kapolresta juga meminta masyarakat untuk memperketat penjagaan di lingkungan masing-masing. Karena seperti biasanya, saat bulan puasa, terutama menjelang lebaran angka kejahatan naik, dibanding bulan biasa. Pemicunya adalah banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Jalan pintasnya, pelaku tindak kriminal akan menempuh jalan melanggar hukum untuk mencukupi kebutuhannya.

“Dengan penjagaan, ruang gerak pelaku menyempit. Mereka akan berfikir panjang, kalau di wilayah yang menjadi incarannya, ketat penjagaannya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Probolinggo, KH Nizar meminta, Satpol PP dan Polisi untuk lebih giat melakukan operasi di cafe, warung remang-reman dan tempat-tempat yang dijadikan pesta Miras dan pacaran oleh remaja. Jika petugas sering melakukan razia, ia yakin, masyarakat yang hendak berbuat melanggar agama, akan berkurang. “Kalau dibiarkan, mereka lebih leluasa. Makanya, kami mohon gencarkan razia,” pintanya.

Ditambahkan, Satpol PP dan petugas Polresta tidak perlu khawatir operasi yang dilakukan. Pihaknya, atas nama MUI akan bersurat kepada Walikota dan Polresta, untuk meminta melakukan penertiban, bahkan merazia warung yang diduga menjual miras. Atas dasar itulah, nantinya Pemkot dan Polresta, bergerak. “Ini surat sudah jadi. Tinggal diluncurkan ke Walikota dan Polresta,” ujarnya seraya menunjukkan suratnya.

Sedang Ketua FKUB, DR Abdul Halim berharap, toleransi antar umat beragama ditingkatkan. Sebab, menurut Lemhanas, angka toleransi di Indonesia berada di angka satu dan tulisannya berwarna merah. Dengan toleransi yang tinggi, kita tidak mudah dipecah-belah dengan aksi teror bom sekalipun.

“Angka toleransi menkhawatirkan. Makanya kami minta untuk ditingkatkan. Kalau tetap di zone merah, kita mudah diprovokasi,” katanya singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *