Putrinya Lumpuh Selama 14 Tahun, Pasutri ini Harapkan Perhatian Pemerintah

by
Shintia Amalia, bersama orang tuanya, warga yang tinggal di sebuah rumah yang berada di Desa Kudu, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mengalami lumpuh selama 14 tahun. (FOTO: SIS)

NGANJUK, FaktaNusantara.com – Di usia 15 tahun, kondisi Shintia Amalia, warga yang tinggal di sebuah rumah yang berada di Desa Kudu, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tak seperti anak sebayanya kebanyakan.

Dalam beraktivitas sehari-hari, anak perempuan dari pasangan suami isteri (Pasutri) Senin (69) dengan Khotiin (36) yang beranjak remaja ini, harus dengan bantuan orang tuanya. Kursi roda yang dimilikinya, menjadi teman setianya dikala dia ingin kemana-mana.

Ya… Shintia -begitu gadis ini biasa disapa, mengalami lumpuh berkepanjangan pada kakinya. Setiap harinya, ia banyak menghabiskan waktu dengan hanya berbaring di tempat tidurnya bersama kedua orangtuanya.

“Kalau dia ingin kemana-mana, atau ingin tahu suasana luar rumah, ya kita antar dengan kursi rodanya,” kata Khotiin, ibu Shintia kepada Ipda M Fatoni, Panit Intel Polsek Kertosono.

Ipda M Fatoni mengaku tak sengaja bertemu dengan Shintia. Saat itu, Rabu (27/6/2018), dirinya mendapat tugas memantau pelaksanaan pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 07, Jalan Raung, Desa Kudu, Kecamatan Kertosono. Merasa iba dengan kondisi Shintia, Ipda M Fatoni pun menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya yang berada di sebelah TPS 07.

Di rumah yang masih mereka kontrak itu, Senin yang didampingi Khotiin berkeluh kesah tentang lumpuh yang dialami Shintia sejak 14 tahun silam. Shintia, dilahirkan dalam kondisi sehat dan berkembang secara normal. Pada usia 9 bulan, Shintia mulai trantanan alias latihan berjalan. Sesekali, dia menggunakan alat bantu atau biasa disebut Apolo.

“Saat latihan berjalan itulah, Shintia tiba-tiba terjerembab jatuh. Namun, beberapa saat kemudian, Shintia mengalami demam tinggi,” cerita Khotiin.

Khawatir dengan kondisi anak semata wayangnya, oleh ibunya ia dibawa ke RSUD Kertosono yang lama. Oleh spesialis dr Johar, kondisi Shintia yang panas tinggi dan kejang-kejang, langsung disuntik untuk menurunkan panas tingginya. Selang beberapa menit, Shintia kembali mengalami kejang akibat panas tingginya. Ia pun langsung disuntik lagi, biar tidak kejang.

Tindakan penyuntikan itu setiap 5 menit sekali dan dilakukan dr Johar, hampir tiga jam secara terus-menerus. Setelah tindakan itu, Shintia sudah tidak mengalami kejang lagi. Namun, kondisi Shintia lemah. Hingga akhirnya, ia di rawat inap selama 1 minggu. Dan kemudian, dr Johar mengizinkan diperbolehkan pulang.

Sepulang dari RSUD Kertosono, Keseharian Shintia tak seperti biasanya yang cekatan. Ia lemas dan tidak bisa beraktifitas, layaknya anak-anak seusianya yang mulai latihan berjalan.

Panit Intel Polsek Kertosono, Ipda M Fatoni (kiri) bersama orangtua Shintia, saat mengunjungi rumah kontrakannya. (FOTO: SIS)[/caption]

Mengetahui kondisi Shintia begitu, orang tua Shintia membawanya ke RSUD Gambiran Kediri. Setibanya disana, Shintia harus menjalani perawatan terapi. Namun, hingga 4 tahun lamanya terapi, perkembangan Shintia tak juga berangsur pulih, Shintia tetap lemas.

Pasca dari RSUD Gambiran, orangtua Shintia tetap berupaya mengobatinya. Namun, hasilnya sama saja. Tak ada perkembangan signifikan pada Shintia. Ia tetap lemas dan terbaring di tempat tidurnya.

“Dibilang capek ya capek mencari tempat pengobatan kesana kemari. Tapi demi anak, saya tidak putus asa. Kami juga berharap, agar pemerintah membantu kami demi kesembuhan anak kami. Dengan jalan apapun, yang penting, anak kami sehat kembali,” sedih Senin, diamini Khotiin.

Sebagai pekerja serabutan, Senin mengaku cukup berat menjalani hidup sehari-hari bersama istri dan anak semata wayangnya yang dalam kondisi lumpuh. Apalagi, rumah yang ditinggalinya itu, masih mengontrak.

“Biaya kontrak rumah ini Rp 3 juta setiap tahun. Untuk biaya hidup sehari-hari berat, apalagi merawat anak yang sedang sakit. Dari pemerintah, kita hanya dibantu Rp 10 Ribu tiap hari. Dibilang berat, ya berat pak. Tapi saya selalu berusaha mencari rezeki, asalkan tidak melanggar hukum,” ungkap Senin kepada Ipda M Fatoni, disertai air mata istrinya yang menetes. (sis/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *