Pungutan Disertai Ancaman ke Murid SDN Kanigaran 5, Walimurid Datangi Disdikpora

by
SDN Kanigaran 5, Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Sejumlah orang tua siswa SDN Kanigaran 5, Kota Probolinggo, Senin (14/5/2018) sekitar pukul 09.00 WIB, mendatangi kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora). Tujuannya, melaporkan salah seorang pengajar atau guru yang mengancam anaknya, lantaran tak membayar iuran bulanan.

Ada sekitar 7 wali murid yang sekaligus orang tua murid yang mendatangi kantor yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat. Perwakilan dari mereka ditemui Kepala Disdikpora, Muhammad Maskur di ruangannya. Hanya saja, belum diketahui hasil dari pertemuan tersebut. Mengingat, wartawan tidak diperkenankan masuk.

Diana, salah satu orang tua murid kelas 2 membenarkan, kalau anaknya diancam tidak boleh ikut ekstra kurikuler, kalau tidak melunasi iuran sebesar Rp 40 ribu setiap bulannya. Perempuan yang tinggal di Kanigaran ini mengaku, tidak keberatan dengan pungutan tersebut. Hanya saja, ia meminta sang guru untuk tidak mengancam anaknya. “Kami tidak keberatan. Tapi ya, jangan ngancam-ngancam. Anak-anak kan takut,” tandasnya.

Hal senada juga diungkap salah seorang orang tua murid, yang enggan namanya dipublikasikan. Perempuan berjilbab tersebut membenarkan, kalau anaknya diancam tidak boleh ikut ekstra kurikuler menari. Lantaran belum melunasi tanggungan iuran bulanan selama tujuh bulan. “Ya, anak-anak yang belum bayar, ditakut-takuti. Ada yang diancam tidak boleh ikut pelajaran, menari, dan lain-lain,” ujarnya.

Ia menyayangkan, perlakuan guru pengajar kelas 2 terhadap anak didiknya. Karena itu, ia bersama 6 orang tua siswa yang lain mendatangi Kantor Disdikpora, untuk membicarakan tindakan guru yang tidak menyenangkan tersebut.

“Kami kesini untuk mencari kejelasan. Apakah pungutan dan guru mengancam siswanya, dibolehkan. Saya tidak akan menuntut apa-apa. Mari duduk bareng. Selesaikan permasalahan ini,” tandasnya.

Mengingat, di sekolah lain tidak ada pungutan bulanan. Apalagi siswa yang tidak membayar diancam. Ia juga heran, mengapa baru bulan ini pihak sekolah mengeluarkan kartu iuran bulanan. Mestinya, bukti pembayaran seperti itu diberikan ke siswa pada awal tahun pembelajaran. Dan setiap siswa diwajibkan membayar lunas.

“Kami tidak tahu untuk apa bulanan Rp 40 ribu itu. Enggak ada penjelasan, baik dari komite dan sekolah,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang wali murid yang menolak namanya ditulis membenarkan apa yang dikatakan orang tua yang lain. Pria tersebut mengaku, kalau anaknya diancam tidak akan mendapat bantuan, kalau tidak melunasi iuran 7 bulan.

“Nggak tahu bantuan sekolah seperti apa. Pokoknya anak saya takut, karena diancam guru kelasnya. Masak anak saya bohong. Kalau kelas 5 atau 6, anak bisa bohong. Kalau masih kelas 2 seperti anak saya, nggak mungkin bohong,” ujarnya.

Dijelaskan, pungutan Rp 40 ribu yang dibebankan ke anaknya membingungkan. Di kartu iurannya tertulis komite, tetapi yang menagih dengan disertai ancaman, guru kelas. Mestinya, jika iuran tersebut dilaksanakan oleh komite, maka yang mengingatkan dan menagih ke siswa adalah komite, bukan guru.

“Kalau dari komite, mengapa kami tidak pernah diundang. Kami sebagai orang tua kan harus tahu. Kami tidak keberatan, tapi mengapa ada ancaman. Sampe anak saya takut. Untung sik mau sekolah,” tandasnya.

Terpisah, Bendahara Komite Asri Rahayu membenarkan, kalau komite telah memungut iuran Rp 40 ribu satu bulan. Sedang ancaman kepada murid yang tidak membayar, komite tidak pernah melakukan. Bahkan, jika orang tua ada yang berterus terang tidak mampu, pihaknya bersedia membebaskan dari iuran.

“Ya, memang ada iuran. Sudah kami bicarakan dengan wali murid. Kami tidak pernah mengancam siswa. Kalau ada guru yang mengancam, itu bukan urusan kami. Itu urusan sekolah,” terangnya.

Disebutkan, iuran bulanan itu diberlakukan siswa dari kelas 1 hingga kelas 5, sedang kelas 6 tidak ada pungutan. Rahayu kemudian merinci pungutan tersebut. Menurutnya, Rp 10 ribu untuk Tabungan Wisata, Gebyar Seni, Ekstrakurikuler dan Paguyuban. Dana yang dikumpulkan dari siwa tersebut, menurutnya bisa dipertanggungjawabkan.

“Pembukuannya lengkap. Kami setiap bulan mengadakan pertemuan. Ya mempertanggung jawabkan dana itu,” tambahnya.

Dijelaskan, ekstrakurikuler di SDN Kanigaran 5 ada 2 macam yakni, ekstrakuriukulir dari sekolah dan tambahan. Untuk ekstra tambahan seperti tari, basket dan seni lukis, ada biayanya. Komite-lah yang membayar instruktur atau pengajarnya. Sedang ekstra dari sekolah seperti Bahasa Inggris, Pramuka dan Komputer, biayanya dibebankan ke sekolah.

“Kami hanya ingin sekolah ini maju. Tidak mau dicap sekolah miskin, terbelakang dan lainnya. Justru kami banyak membantu. Tempat parkir, dan gasebo, itu asli sumbangan saya. Tidak mengambil uang komite,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *