Potret Kemiskinan di Probolinggo, Pasutri Penderita Tumor dan Stroke Tak Punya Rumah

by
Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal, saat mengunjungi Bebun, yang menderita stroke, setelah mengunjungi istri Bebun di RSUD dr M Saleh, yang menderita tumor. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Lengkap sudah penderitaan Dewi Astuti (50) dan Bebun (58). Selain tidak memiliki rumah, pasangan suami istri (Pasutri) yang tidak dikaruniai anak ini, didera sakit parah. Bebun menderita stroke hingga tak dapat bergerak, sedang istrinya diserang tumor ganas.

Pada Sabtu (7/4) siang, Pasutri yang numpang di rumah Mujiono (52), adiknya, di Jalan Soekarno-Hatta, Gang Mangga RT 2 RW 3 Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur itu bisa tersenyum. Sebab, keduanya mendapat bantuan sembako dan diupayakan kartu BPJS oleh Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal.

Karena tidak punya apa-apa, Bebun tak pernah dirawat di RSUD atau ke dokter. Sedang Dewi Astutik yang biasa dipanggil Emy, 9 Maret lalu sempat beberapa hari dirawat di RSUD dr Muhammad Saleh. Namun, Emi tidak dirawat di RSUD Syaiful Anwar Malang, sesuai rujukan RSUD dr M Salah, dengan alasan tidak punya biaya. “Biaya perawatan di RSUD kena Rp 1,5 juta. Kami dan warga urunan,” ujarnya.

Alasan lain, jika harus opname di Kota Malang, tidak ada yang menjaga lantaran tidak memiliki anak. Sedang orang tua dan kakak adik Emy berada di luar daerah. Kondisi ekonomi mereka, hampir sama dengan Emy.

“Enggak punya apa-apa. Rumah yang ditempati milik adiknya. Tidak punya anak, sedang saudara dan ibunya Emy di luar kota,” ujar Muhammad Jatmiko (36), Ketua RT setempat.

Jatmiko yang masih keponakan Bebun mengatakan, Emy dibawa ke rumah sakit setelah mendapat Surat Keterangan Miskin (SKM) dari Pemkot. Dan SKM tersebut sudah tidak bisa dipergunakan, karena sudah habis massa waktunya. Pasutri inipun, tidak memiliki kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). “Makan sehari-harinya, ya kami dan warga sekitar sini yang memberi. Yang merawat juga. Kami dan warga bergantian,” tandasnya.

Dijelaskan, pasutri ini tidak tidur bersama. Di rumah berukuran 4×8 meter itu, Bebun siang dan malam menempati ruang tamu. Sedang Emy istrinya, terbaring lemas di kamar tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Bebun, suaminya. Jatmiko beserta warga yang lain mengatakan, kalau penyakit yang diderita Emy, menebar bau busuk. “Kadang baunya sampai tercium keluar rumah,” tambah Ketua RT yang diangguki warga.

Menurutnya, sekitar 4 tahun lalu, Emy ada masalah dengan rahimnya. Setahun setelah rahimnya diangkat melalui operasi, muncul benjolan di dekat alat kelaminnya, tepatnya di paha kiri bagian atas. Benjolan sebesar kentang itu terus membesar hingga pecah dan muncullah daging putih seperti otak manusia. “Daging putih persis otak. Itu terus menjalar hingga membesar. Sekarang besarnya kayak piring makan,” tambahnya.

Jatmiko berharap, Pemkot membantu biaya operasi pengangkatan daging di bagian parut bawah Emy. Mengingat, Pasutri tersebut sudah tidak memiliki apa-apa. Dan warga, serta keluarganya sudah tidak mampu membantu.

“Jumat kemarin Emy dibawa ke RSUD dr M Saleh. Karena kondisinya mengkhawatirkan. Ia harus diinfus, karena ia tidak mau makanan dan minuman. Sejak sakit, sampai sekarang Pemkot belum menjenguk,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan setempat, dr Ninik Irawibawati saat dihubungi mengaku, belum mendengar kalau ada warga miskin sakit parah. Karenanya, ia enggan berkomentar lebih jauh soal penyakit yang diderita Emy. Apakah tumor atau kanker, termasuk jenis dan stadiumnya.

“Kami harus tahu dulu. Kalau sudah tahu, kami bisa mengambil tindakan. Terus terang, kami belum mendengar kalau ada warga Pilang yang sakit seperti itu,” katanya singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *