Oknum PNS Pemkot Probolinggo, Diduga Jual Tanah Milik Warga

by
Nur Eva Arimani saat menunjukkan tanah milik ayahnya yang dijual oleh oknum PNS Pemkot Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Oknum PNS Pemkot Probolinggo, diduga telah menjual tanah milik warga. Tanah kavling berukuran 5×22 meter yang berlokasi di Jalan Letjen Sutoyo Gang II, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, dijual Acep Arief Hidayat. Padahal tanah tersebut milik orang tua Nur Eva Arimami (48) yang bernama Ali Sumar, yang sudah meninggal dunia.

Hal tersebut diungkap Nur Eva Arimani, Selasa (24/4/2018) sekitar pukul 09.00 WIB ke sejumlah wartawan. Menurutnya, lahan milik orang tuanya itu dibeli seseorang dan sudah didirikan rumah. Sementara sisanya yang berkuruan 10×22 meter persegi, masih kosong dan ditempati sampah dan tempat parkir kendaraan roda empat. Ia tidak bisa menempati lahan peninggalan orang tuanya, karena tak mengantongi sertifikat.

Eva yang tinggal di Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, mencoba mencari kebenaran informasi kalau tanah kavlingnya dijual Acep. Ia kemudian bertemu dengan Walikota Hj Rukmini beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan yang diperkasai Bagian Asset, Walikota menjelaskan, jika tanah yang dimaksud, dijual oleh Acep seharga Rp 1juta. “Bu Wali memperlihatkan kwitansinya. Atas nama Acep,” ujarnya.

Menurutnya, tanah peninggalan orang tuanya itu dijual oleh Sekretaris Lurah Tisnonegaran atas perintah Acep yang kala itu menjabat Lurah setempat, sekitar tahun 1997. Eva tidak terima tanahnya dijual oleh orang lain dan ia akan terus memperjuangakan, hingga tanahnya kembali ke dirinya. “Siapa yang terima, kalau tanahnya dijual oleh orang lain. Ya, kami akan berjuang agar tanah bapak, kembali ke kami,” tandasnya.

Tak hanya itu, Eva juga terus memperjuangkan sisa tanah milik ayahnya seluas 10×22 yang kini masih kosong. Kavlin yang berada paling ujung timur itu, kini menjadi tempat membuang sampah dan parkir kendaraan roda empat milik warga. Sejak tahun 2014, ia memperjuangkan untuk disertifikatkan, namun terkendala. Eva tidak memegang atau memiliki tanda bukti kepemilikan, termasuk leter C.

Karenanya, hingga sekarang, ia tidak bisa melihat leter C dan kerawangan di kantor kelurahan. Namun, berjalannya waktu, Eva mendangar kalau di Leter C, kavling seluas 15×22 meter itu atas nama bapaknya. Hanya saja, ia tidak mengetahui asal-usul darimana ayahnya mendapatkan tanah tersebut.

“Semua orang sekitar tanah kavling mengatakan, kalau tanah itu milik ayah saya. Enggak tahu saya bapak dapat dari mana. Kan tahun 80-an bapak saya jadi anggota DPRD,” tandasnya.

Awalnya, ia dan keluarganya serta saudaranya, tidak tahu kalau orang tuanya memiliki kavling. Eva tahu setelah diberitahu oleh warga sekitar dan Karto, teman akrab orang tuanya. Dari informasi itulah, perempuan yang biasa dipanggil Eva itu, mencari tahu.

“Ternyata benar, ayah punya tanah kavling. Tapi sebagian sudah dijual oleh Acep. Sedang sisanya, tidak bisa disertifikatkan. Alasan Pemkot, karena tanah tersebut tanah gendom,” pungkasnya.

Terpisah, Karto (75) teman karib Ali Sumar mengatakan, kalau tanah gendom tersebut dikavling oleh Kepala Desa Tisnonegaran tahun 1980. Tanah tersebut diminta oleh Kepala Desa kepada Walikota waktu itu, Harto Haryono dan disetujui. Dan yang ditunjuk sebagai pengelola kavling adalah Ali Sumar, yang tak lain orang tua Eva.

“Ketuanya bapaknya ini. Kan dulu Ali Sumar anggota DPRD,” ujar Karto sambil menunjuk Eva yang bertamu ke rumahnya.

Karto, yang kala itu masih aktif di TNI juga ikut membantu memasarkan tanah gendom yang dikavling tersebut. Bahkan, ia sendiri membeli satu kavling ukuran 10×22 meter persegi seharga Rp 500 ribu. Bapak yang sudah pensiun dari TNI itu mengaku, lupa lahan seluas 1,07 hektar itu dibagi menjadi berapa kavling.

“Bapaknya Eva ini diberi satu kavling, karena yang ngurus. Ali Sumar juga mendapat tanah kelebihan kavling ukuran 5×22 meter. Jadi, Ali punya tanah kavling 15×22 meter persegi,” tandasnya.

Karto menjadi heran, mengapa Walikota yang sekarang mempersulit pensertifikatan tanah Ali Sumar. Padahal, puluhan kavlin dari lahan bengkok yang dibeli warga, sudah ada yang bersertifikat. Bahkan, tanah kavling yang ditempati Karto sudah bersertifikat. Ia meminta Pemkot untuk mempermudah Eva mengurusi tanah milik orang tuanya.

“Kenapa dipersulit, la wong tanah kavling di sini sudah banyak yang bersertfikat. Betul tanah bengkok tapi kan sudah dibeli warga. Tanah bengkok yang dijual, tidak ada gantinya. Zaman dulu dengan sekarang, beda. Kalau sekarang tidak boleh. Boleh, tapi harus ditukar-guling,” pungkasnya.

Sementara itu, Acep yang kini sudah purna tugas dari Pemkot saat dihubungi, selulernya tidak diangkat, padahal aktif. Saat wartawan berkunjung ke rumahnya, tidak ada yang membuka pintu. Padahal, media ini sudah beberapa kali mengetok pintu dan mengucapkan salam. Namun, tidak ada respon. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *