Merajut Toleransi, GKJW Kota Probolinggo Gelar Sarasehan, Dihadiri GusDurian

by
Acara Sarasehan di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Kota Probolinggo, yang berlangsung, Minggu (26/5/2018). (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Umat Kristiani, hendaknya keluar rumah dan berkumpul bersama warga yang lain, terutama umat Islam. Sebagai minoritas, jemaat kristen tidak pelu takut pada umat muslim yang miyoritas. Karena Islam bukanlah agama teroris, maka bergaullah dan berkumpul dalam aktivitas tradisi atau budaya.

Jangan sampai umat kristen berkumpul dan bergaul dengan umat muslim membicarakan soal agama. Karena sampai kapan pun tidak akan ketemu. Begitu juga dengan agama lain, seperti Katolik dan Protestan. Meski masih satu agama, tetapi tidak bisa disatukan keyakinannya.

Hal tersebut disampaikan Pendeta (Pdt) Kristanto dalam acara Sarasehan yang berlangsung, Sabtu (26/5/2018) pukul 18.00 WIB di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Kota Probolinggo. Acara Sarasehan tersebut mengusung Tema, Meningkatkan Kwalitas Pelayanan dan Kepedulian Antar Umat Beragama di tengah Isu Intoleransi.

Menariknya, acara tersebut selain dihadiri jemaat Kristiani, juga dihadiri umat Islam yang tergabung dalam GusDurian (PBNU). Turut hadir pula, pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang diketuai Dr Abdul Halim.

Abdul Halim yang diberi kesempatan pertama, menyambut baik langkah yang diambil GKJW menggelar sarasehan, mengundang umat muslim. Langkah tersebut, menurutnya, sebagai upaya mempererat dan mempertebal silaturahmi yang kini dirong-rong oleh aksi teror. Mereka mencoba mengadu-domba umat yang berbeda keyakinan agar saling curiga, bahkan saling membenci. “Itu upaya mengikis dan merusak toleransi yang sedang kita bangun,” tandasnya.

Karena itu, Abdul Halim meminta umat Kristen dan umat lain, tidak terpancing dengan apa yang sudah terjadi. Menurutnya, Islam cinta damai dan dalam agama Islam tidak boleh membunuh. Islam menerima perbedaan, bukan menolak perbedaan.

“Dengan sarasehan ini, mari kita rajut kembali toleransi dan kebhinekaan, yang telah dinodai oleh oknum yang tak bertanggungjawab,” pungkas Abdul Halim.

Sedang Pendeta Kristanto membicarakan soal ketakutan (pobhia) yang menjalar dan merasuki umat kristiani. Dalam paparannya, pendeta kelahiran Banyuwangi ini berharap, umatnya untuk membuang rasa phobia tersebut. Meski ketakutan semacam itu dianggap sebuah kewajaran, mengingat kristen, umat minoritas. “Kita buang ketakutan itu. Mari umat Kristen, keluar dan berbaur dengan masyarakat,” pintanya.

Kristanto mengajak umat Kristiani untuk mengubah peran greja yang awalnya tertutup, untuk welcome terhadap umat lain. Ia berkeinginan, gereja menjadi pewaris kebhinnekaan. Karena itu, hendaknya gereja menjadi gereja inklusif, inovatif dan transformatif. Menurutnya, gereja juga harus mengembangkan sikap srawung yang dalam bahasa Indonesianya berkumpul.

“Berkumpul dan bergaul dengan siapa saja. Gereja juga peduli dengan mereka yang belum beruntung. Dengan siapa saja, tanpa memandang agama dan suku,” tandasnya.

Sementara Anas Ahimsa, Presidium GusDurian wilayah Jawa Timur, utusan dari pusat dalam paparannya, lebih pada jaringan yang diikuti sekarang ini. Dijelaskan, selama berkecimpung di jaringan GusDurian, dirinya telah banyak bergaul dan tidur bersama umat Kristen dan Katolik di beberapa daerah. Bahkan, ia pernah ditugasi menghadiri beberapa acara di gereja.

“Teman-teman kami dari umat agama lain, banyak. Tidak ada masalah, sesuai dengan ajaran Gusdur Pluralisme. Presidium GusDurian di salah satu daerah, orang Kristen kok,” tandasnya.

Pemuda yang biasa disapa Anas itu, kemudian menjelaskan tentang singkatan PBNU. Menurutnya, PBNU bukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, tetapi singkatan dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ike, NKRI dan Undang-undang.

“Kami bukan jaringan politik. Perjuangan kami tidak hanya secara langsung. Tapi kami juga berjuang melawan radikalisasi, intoleransi, dan aksi teror, Hoax di Sosial Media. Makanya, mari berjuang melawan anti toleransi besama-sama di Medsos,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *