Menurun, Penjual Janur di Probolinggo Mengaku Sepi Pembeli

by
Penjual janur dan ketupat di Jalan Tjuk Nya' Dien (Pasar Baru), Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Momen lebaran, tidak hanya dirasakan oleh penjual makanan dan minuman serta pemilik pertokoan, pusat perbelanjaan, dan super market. Penjual janur pun ketiban berkah. Hanya saja, rezeki yang didapat momen hari raya tahun ini, tidak seperti lebaran tahun lalu yang lebih banyak.

Kondisi berkah pendapatan tersebut diungkap salah seorang penjual janur Khotija (34). Hanya saja perempuan yang mengaku tinggal di Desa Pedagangan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo ini, enggan menyebut besaran penghasilannya. Yang jelas menurutnya, ia membawa hasil lebih sedikit ke rumahnya dibanding lebaran tahun sebelumnya.

Penyebabnya, lanjut Hotija, karena pembeli janur lebih sedikit. Perempuan yang berjualan janur di trotoar jalan Tjut Nya’ Dien (Pasar Baru) ini mengaku, membawa janur kurang lebih 10 ribu helai. Namun, hingga 4 hari pasca lebaran, daun kelapa mudanya masih bersisa. “Kalau tahun lalu, sudah habis. Tapi sekarang masih sisa,” ujarnya ke sejumlah wartawan, Rabu (20/6) siang.

Hotija yang berjualan bersama suami dan anaknya tersebut mengatakan, tidak hanya menjual janur, tetapi sekaligus malayani pembeli yang butuh ketupat. Karenanya, sambil menunggu pembali mereka membuat ketupat. Disebutkan, ada dua jenis ketupat yang dibuat, yakni ketupat berdiri dan duduk. Dua model ketupat tersebut dijual dengan harga yang sama, meski cara membuatnya ada yang lebih sulit.

Sepinya pembeli, lanjutnya, juga berpengaruh terhadap harga jual janur. Disebutkan, harga ketupat antara Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per renteng atau per ikat yang berisi 10 biji. Untuk ketupat ukuran kecil dijual seharga Rp 8 ribu dan untuk ukuran besar Rp 10 ribu.

“Kita jual rata saja. Sama, harga ketupat berdiri dan duduk. Yang penting, kami pulang tidak membawa sisa janur. Semuanya laku,” imbuhnya.

Hotija menambahkan, selama jual janur, ia bersama keluarganya tidak pulang. Ia mengaku menjual janur sehari setelah lebaran. Jika kekurangan janur, ia tinggal menghubungi saudaranya yang di Tiris untuk mengantar janurnya.

“Kami tidak pulang. Sehari setelah lebaran, kami sudah jualan di sini. Ya, tidur di trotoar ini, gantian. Makanya, kami buka 24 jam. Jam berapapun beli, kami layani,” pungkasnya.

Hal senada juga diungkap Fauzy (49) penjual janur di jalan yang sama, tapi di barat jalan Tjut Nya’ Dien. Ia yang berjualan ditemani istrinya mengaku, tahun ini pembeli sepi. Padahal, pria yang tinggal di Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo itu, menjual janur yang sudah berbentuk ketupat, lebih rendah dari Hotija. “Satu ikat berisi 10 biji ketupat, kami jual Rp7 ribu,” tandasnya.

Fauzy mengaku, tidak banyak membawa janur, seperti Hotija. Ia akan mengulak lagi janur apabila persediaan janurnya menipis, sedang momen lebaran masih ada. Menurutnya, pembeli janur dan ketupat tidak ada, 7 hari setelah lebaran.

“Ya tinggal besok Kamis kami jualan. Soalnya tujuh hari setelah lebaran, kan besok. Kami tidak berani kulakan lagi. Kami menghabiskan sisa,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *