Kisah Pedagang Kecil di Madiun yang Terjerat Utang di Bank Titil

by
Sukarmi, pedagang warung yang berada di Desa/Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. (FOTO: S.RUD)

MADIUN, FaktaNusantara.com – “Masih pagi, belum dapat penglaris,” ujar Sukarmi (63) kepada seseorang yang datang ke warung miliknya, lengkap dengan tas kecil dan beberapa lembaran yang dibawanya.

Tak mendapat uang tagihannya, lelaki itu kemudian duduk di bangku yang terbuat dari bambu. Beberapa kali menyeruput kopi yang dipesannya, lalu berdiri. “Nanti, saya kembali lagi bu. Pokoknya hari ini ada cicilan,” katanya sambil berlalu pergi.

Ya, begitulah rutinitas pagi di warung milik wanita tua yang berada di Desa/Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun Ini. Warung berukuran sekitar 4×5 itu terbuat dari bambu. Tidak ada menu spesial yang mampu menggugah selera pengunjung. Disana, hanya terdapat beberapa jajanan tradisional yang tersaji.

“Tiap pagi, mereka datang menagih uang. Saya pinjam uang kepada mereka, untuk tambahan modal,” katanya kepada FaktaNusantara.com.

Sukarmi, merupakan satu diantara sekian banyak pedagang kecil di Kabupaten Madiun yang terbelit hutang kepada bank titil alias rentenir. Ia mengaku terpaksa meminjam, lantaran tak punya cukup modal untuk tambahan dagangannya. Selain itu, ia mengaku cukup mudah meminjam di bank titil, sebab dirinya tak cukup mampu menyediakan agunan atau jaminan, jika meminjam di perbankan.

Dikatakannya, saat itu ia meminjam bank titil sejumlah Rp 500 ribu. Namun, ia mendapat Rp 450 ribu. Sedangkan Rp 50 ribu-nya, dibuat administrasi. Untuk melunasinya, Sukarmi wajib membayar Rp 25 ribu, hingga 25 kali cicilan. Jika ditotal, praktis Sukarmi membayar Rp 650 ribu plus bunganya. “Mau bagaimana lagi. Karena butuh dan nggak ribet mendapatkan modal itu,” katanya.

Namun, bukannya berkembang, usahanya malah ngos-ngosan. Laba yang tak besar didapatnya, rupanya hanya sekedar menutupi bunga cukup tinggi yang dipatok bank titil. “Bertahan saja sudah untung. Lagi pula, warung sepi pembeli. Belum ada pembeli, pagi-pagi sudah ditagih,” keluhnya.

Cerita Sukarmi, juga dialami Sukiyem (54) pedagang warung yang berlokasi di Desa Muneng Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Dirinya mengaku tergiur ngutang ke bank titil lantaran mudah mendapatkan uang modal. Disamping itu, nyaris tanpa syarat. Ia juga mengaku sempat menolak saat ditawari ngutang. Namun, karena kebutuhan modal yang mendesak, tetap saja memaksa dirinya menempuh cara singkat. Ya, ngutang ke rentenir.

“Wah, bank harian memang pandai ngambil hati. Saya selalu ditawari terus. Malah bilang, minjamkan temannya juga ngak apa-apa,” terangnya.

Hanya saja, keputusan ngutang ke rentenir, tak membuat usahanya berkembang. Justru, wanita paruh baya ini mengaku, jika laba yang didapatnya nyaris tak cukup untuk melunasi hutangnya tiap hari. Bayangkan saja, saat itu ia meminjam Rp 200 ribu. Namun, ia menerima uang sebesar Rp 180 ribu. Untuk melunasinya, ia diwajibkan membayar Rp 10 ribu selama 24 hari.

“Ya itu tadi kelebihannya, syaratnya mudah. Karena saya nggak punya jaminan untuk ngutang di bank yang bunganya ringan,” pungkasnya. (s.rud/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *