Kesulitan Ikuti Petunjuk Jaksa, Polisi Mengaku Prosedur Penanganan Kasus BS Tak Sesuai Teori

by
Alat berat berupa 1 Excavator yang diamankan polisi saat itu. (FOTO; ELO)

JOMBANG, FaktaNusantara.com – Lambatnya penanganan kasus BS, seorang Kepala Desa Banjarsari, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang Jawa Timur, lantaran penyidik Satreskrim Polres Jombang, kesulitan mengikuti petunjuk Jaksa, membuat penangan kasus tersebut berjalan tidak sesuai prosedur dalam teori Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengenai batas waktu.

Meski begitu, Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Gatot Setya Budi, akan berupaya maksimal dalam memenuhi petunjuk Jaksa, yang dirasa sangat sulit. “Kita berupaya untuk memenuhi petunjuknya secara maksimal,” kata Gatot, saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp (WA), Selasa (10/4/2018).

Disinggung mengenai ketentuan batas waktu yang diatur dalam pasal 138 ayat (1) dan (2) KUHAP, Gatot menjelaskan, jika pihak Satreskrim akan terus berupaya memenuhi petunjuk jaksa, sampai maksimal.

“Sampai maksimal. Iya, sebisa mungkin kami memenuhi aturan, tapi seringkali dalam praktek kita ada kesulitan,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kendala apa yang membuat penyidik Satreskrim, mengalami kesulitan memenuhi pentunjuk Jaksa, Kasat Reskrim enggan memberikan jawaban. Tak hanya itu, pihaknya mengalihkan pertanyaan dengan memberikan contoh kasus yang penanganannya tidak berjalan sesuai dengan teori dalam KUHAP.

“Sampeyan kok nggak tanya kasusnya Evy yang mbunuh anaknya itu sudah berhari-hari, bahkan mau menginjak bulan kami kirim, tapi nggak ada petunjuk atau P21, itu teorinya juga gak boleh dan banyak kasus lain yg juga begitu, itulah realitanya satu tambah satu tidak mesti dua,” jawabnya melalui pesan WA.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, diawal tugasnya berjanji, akan segera melakukan gelar perkara dengan jajarannya, terkait kasus BS. Namun hal ini hanya isapan jempol belaka. Terbukti, hingga kini, belum ada upaya serius polisi dalam menegakkan hukum di Jombang.

“Saya akan tanyakan sejauh mana perkembangannya ke Kasat Reskrim. Dan hasilnya, nanti akan kita sampaikan ke rekan-rekan. Dan untuk kasus yang berhenti, silahkan kita diberi masukan agar bisa kita tindak lanjuti,” tegas AKBP Fadli, Rabu (28/3/2018) lalu.

Perlu diketahui, sebelumnya, jajaran Satreskrim Polres Jombang, menggerebek galian C yang ada di Dusun Karangasem, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (1/5/2017) silam.

Pasalnya, galian C ini diduga melakukan pelanggaran, karena melakukan kegiatan tambang melebihi kordinat yang ditentukan dalam izin galian. Bahkan, kelebihan kordinat itu besarannya yakni 5 hektar dari kordinat yang ditentukan.

Bahkan, saat itu aparat Kepolisian juga mengamankan 3 buah dump truk yang membawa hasil tambang, 1 alat berat excavator merk Liugong 920 D yang sekarang berada di Satlantas Polres Jombang.

“BS selaku pemilik galian, sudah ditetapkan menjadi tersangka karena sudah melanggar titik koordinat yang mencapai 5 hektar dari yang ditentukan dari izinnya. Hal ini diperoleh petugas setelah memeriksa ketujuh saksi. Sedangkan 6 saksi lainnya yang sebagai pembeli, pengawas serta operator sudah dipulangkan karena mereka tidak tahu apa-apa,” kata AKP Norman Hidayat, Kasat Reskrim kala itu, (7/5/2017).

Atas penggerebekan tersebut, Polres Jombang kemudian menetapkan BS sebagai tersangka. BS dijerat dengan Pasal 158 Undang-undang No 4 tahun 2009 tentang Minerba, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 Miliar. (elo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *