Ini Penyebab Langkanya Daging Ayam Potong di Pasaran Kota Probolinggo

by
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sukarning Yuliastuti, usai melakukan sidak di rumah suplier ayam, Rabu (2/5/2018) siang di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Sumberasih. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Kebutuhan daging ayam broiller di Kota Probolinggo, disuplai dari daerah lain. Sebab, di kota seribu taman tersebut, tidak ada peternak ayam pedaging. Selain ketersediaan lahan terbatas, alasan lain karena peternak sering diunjuk rasa. Masyarakat tidak mau lingkungannya ada bau kotoran ayam.

Kondisi seperti itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sukarning Yuliastuti, usai melakukan sidak di rumah suplier ayam, Rabu (2/5/2018) siang di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Sumberasih.

Menurutnya, karena dua alasan itulah, sehingga masyarakat enggan beternak ayam, terutama berskala besar. Dengan begitu, di wilayahnya hanya ada peternak kecil yang jumlah ayam yang diternak berkisar antara 100 sampai dengan 200 ekor.

Sedang peternak berskala besar, lanjutnya, tidak ada. Karena itu kebutuhan daging ayam disuplai daerah lain. Mengingat, kebutuhan daging ayam tidak bisa dipenuhi peternak lokal yang jumlah ayamnya tak lebih dari 200 ekor. Sementara kebutuhan daging ayam di wilayahnya berkisar antara 28 sampai dengan 30 ton per hari. “Peternak sini tidak mampu memenuhi kebutuhan daging ayam. Ya harus didatangkan dari luar,” tandasnya.

Kondisi seperti itu, amatlah tidak menguntungkan. Sebab, jika stok ayam di luar daerah berkurang, akan berdampak. Para pedagang ayam Kota Probolinggo, tidak bisa mensuplai para penjual daging ayam di pasar. Akibatnya, mereka akan kebingungan ketika mengalami kondisi seperti itu. Sementara peternak ayam di wilayahnya, tidak mampu memenuhi stok yang dibutuhkan. “Seperti sekarang ini. Stok habis, ayam langka. Otomatis, harga naik,” tambahnya.

Sementara itu, Dispertan tidak sendirian melakukan sidak di rumah Edi, salah satu pedagang besar ayam broiller di Kota Probolinggo. Dispertan juga mengajak Polresta, Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) dan Bulog. Tujuannya, untuk mengetahui penyebab menghilangnya ayam daging di pasaran yang berakibat harga melonjak naik. Harga daging ayam broiller yang pada Senin lalu hanya Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu, kini naik menjadi Rp 36 ribu perkilonya. Bahkan kabar terakhir, sudah diangka Rp 40 ribu sampai Rp 42 ribu per kilogram.

Situasi yang meresahkan pedagang dan warga (pembeli) harus segera ditindaklanjuti. Apakah permainan pengusaha besar dengan cara menimbun, atau memang stok ayamnya berkurang akibat permintaan bertambah. Hasilnya, diketahui stok di perusahaan (pabrik) ayam yang ada di luar daerah, memang berkurang. Sehingga pedagang atau suplier asal Kota Probolinggo, tidak kebagian ayam. “Informasi yang didapat dari pak Edi begitu. Memang stok di pabrik, berkurang,” ujar Kompol Djumadi, Wakapolresta.

Ditanya, apakah langkanya ayam akibat permainan para pengusaha (penimbunan). Kompol Djumadi belum mencium bau seperti itu. Karenanya, pihaknya akan terus memantau dan mengawasi distribusinya serta kandang poeternak dan pedagang besar (suplier). Jika nanti diketahui ada pengusaha yang bermain, menurutnya, akan diproses sesuai hukum yang berlaku. “Sementara ini belum ada. Memang stok di peternak berskala besar, menipis. Tapi pak Edi sudah menyiapkan 6 ton ayam untuk besok,” pungkas Wakapolresta.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo, Gatot Wahyudi, akan terus memantau distribusi ayam, mulai dari suplier hingga ke pedagang pasar. Pihaknya juga akan memantau harga yang dijanjikan Edi paling tinggi Rp 37 ribu per kilonya. Jika nanti pedagang pasar yang menjual diatas harga Rp 37 ribu, maka akan ditelusuri. “Sanksi sih tidak ada. Kami hanya menanyakan, kenapa kok dijual diatas harga itu. Alasannya apa. Apakah ada yang tidak beres dengan distribusinya,” tegas Gatot.

Sedang Edi, sebagai pedagang besar yang mendatangkan ayam dari peternak besar mengaku, kesulitan mencari ayam. Hal tersebut sudah dirasakan pada akhir 2017 yang lalu dan endingnya terjadi pada Senin kemarin. Dari sejumlah peternak besar yang dihubungi, rata-rata mengatakan kehabisan stok.

“Memang stok di pabrik berkurang. Kami sering tidak dapat jatah. Karena diambil pedagang luar daerah, yang juga membutuhkan. Kalau besok, saya jamin ada. Belum tahu hari berikutnya,” tandas Edi singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *