Hasil Otopsi, Kasus Penemuan Mayat Waker Pasar Bayeman, Tidak Dilanjut

by
Petugas saat hendak melakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban, di TKP, di dalam Pasar Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com -Sepertinya, kasus meninggalnya Hartono (50), seorang penjaga malam (Waker) Pasar Bayeman, Kabupaten Probolinggo, tidak dilanjut. Sebab, hasil penyelidikan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan hasil otopsi RSUD Tongas, ditubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Dengan dasar itulah, Polres Probolinggo Kota menduga, Hartono meninggal secara wajar. Apalagi, pria yang tinggal di Dusun Kulak, RT 5 RW 1, Desa Wringinanom, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo itu, memiliki riwayat jantung. Karenanya, Polresta menduga yang bersangkutan meninggal karena serangan jantung, bukan dianiaya atau dibunuh seseorang.

Informasi tersebut didapat dari Kapolreta AKBP Alfian Nurrizal, Kamis (12/7/2018) siang, di RSUD dr Muhammad Saleh, usai mengantar istri Agus Purnomo terduga teroris yang hendak melahirkan. Kapolresta menjelaskan, di tubuh korban, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Karenanya, ia menduga, Hartono meninggal bukan karena dibunuh atau dianiaya. “Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” ujarnya ke sejumlah wartawan.

Hanya saja, Kapolresta tidak menjelaskan, apakah kasusnya penemuan mayat di dalam Pasar Bayeman, dihentikan atau dilanjut. Ditambahkan, korban memiliki riwayat sakit jantung. Dengan demikian, Hartono diduga meninggal akibat serangan jantung.

“Korban punya riwayat jantung. Mungkin malam itu, kambuh,” tandas Kapolresta yang diamini Kasat Intel IPTU Sudarto.

Saat ditanya, apakah ada keterkaitan meninggalnya Hartono dengan gudang toko yang terbuka serta gula pasir milik orang tua Holipa yang berada di luar gudang, dekat jasad korban? Alfian mengatakan, masih akan berkoordinasi dengan Satreskrim.

“Makanya kami belum mendapat laporan secara rinci kasus ini. Kami akan berkoordinasi dengan Satreskrim,” tandasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim, AKP Nanang membenarkan, kalau tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Karenanya, meninggalnya Hartono, tidak bisa dipperoses lebih lanjut. Hal tersebut berdasarkan olah TKP dan otopsi bagian luar yang dilakukan RSUD Tongas.

“Ya, kalau kondisinya seperti itu, tidak bisa diproses. Mau dilanjut gimana, lha wong tidak ada kekerasan,” sebutnya.

Terkait gula pasir seberat 50 kg dan terbukanya bedag, Kasat Reskrim yang belum dua bulan menjabat ini mengatakan, tidak ada keterkaitan dengan korban. Hasil keterangan yang didapat dari pemilik gudang, pintu masuk gudang tidak ada yang rusak, begitu juga dengan kondisi di dalam gudang, berang-barangnya tidak berantakan. “Pemilik toko belum tahu siapa yang mengeluarkan gulanya,” imbuhnya.

Tentang pintu sebelah timur yang terbuka, Kasat menjelaskan, memang kondisinya seperti itu, selalu terbuka. Mengenai jasad korban yang terjepit diantara tumpukan barang dan dipan bambu? Nanang menjelaskan, yang menata dipan adalah pemilik toko, sehingga jasad Nanang tidak kelihatan dari luar.

“Untuk mengetahui siapa yang mengeluarkan gula, butuh saksi. Sedang saksinya, tidak ada,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *