Harga Cabai Rawit Naik, Simak Keluhan Pedagang Warung dan IRT

by
Suriyah, salah satu pedagang di Pasar Baru Kota Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Sejumlah ibu rumah tangga (IRT) dan pemilik warung yang menjual makanan di Kota Probolinggo, mengeluh. Penyebabnya, harga cabai rawit naik tiga perempat kali, yakni naik Rp 20 ribu. Sehingga harganya menjadi Rp 60 ribu, padahal 2 hari sebelumnya, harga berada di kisaran Rp 40 ribu. Diperkirakan, penyebab harga melonjak, di beberapa daerah gagal panen, dengan alasan cuaca tidak mendukung.

Meski harga naik, Nur Wahyudi, salah satu penjual makanan tidak menaikkan harga jual nasinya. Jika dinaikkan, pria yang tinggal di Jalan Cempaka, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo tersebut khawatir, pembelinya berkurang lantaran pindah ke warung lain. Dengan tidak menaikkan harga, jualannya tetap laku. Hanya saja, pria yang biasa dipanggil Yudi itu, labanya berkurang. Mengingat, biaya kulakan beli cabai bertambah, sedang harga jual makanannya tetap, alias tidak dinaikkan.

Pemilik warung Lakar Sae di Stadion Bayuangga ini berharap, Pemkot segera mengambil langkah, agar para pemilik warung nasi, bakso, atau semacamnya tidak terus merugi. Paling tidak, harga cabai rawit kembali normal seperti semula. Ia juga heran, mengapa harga cabai naik, padahal lebaran sudah selesai.

“Masih mending harga jelang lebaran Rp 40 ribu per kilonya. Kalau lebaran naik, itu wajar. Nah, kalau nggak ada apa-apa, terus cabai naik. Ini yang harus Pemkot cari penyebabnya,” ujarnya, Minggu (8/7/2018) siang.

Kepada Satgas pangan, Yudi berharap segera turun ke lapangan, untuk mengetahui penyebabnya naiknya harga cabai. Apakah ada unsur kesengajaan dengan menimbun atau memang gagal panen akibat cuaca. Sebab, jika persoalan tersebut dibiarkan, pedagang makanan merugi terus.

“Jalan keluarnya, Pemkot dan Satgas Pangan turun ke lapangan. Agar bisa mengetahui penyebabnya. Jika memang karena faktor alam, Pemkot bisa mengusahakan operasi pasar, untuk mengendalikan, agar harga tidak naik terus-terusan,” pungkasnya.

Terpisah, pedagang cabai di Pasar Baru Kota Probolinggo membenarkan, kalau saat ini harga cabai rawit merah seharga Rp 60 ribu. Hanya saja, pedagang tidak tahu penyebab sebenarnya. Seperti yang disampaikan Bu Munir alias Suriyah (65). Menurutnya, sudah dua hari harga cabai rawit Rp 60 ribu per kilonya. Sebelumnya, ia menjual cabai yang sama dengan harga Rp 40 ribu.

“Dua hari yang lalu naiknya. Kami tidak tahu penyebabnya. Mungkin karena stoknya menipis,” ujar perempuan asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Mayangan tersebut.

Hal senada juga diungkap Suliana (70). Emak-emak yang tinggal di kelurahan yang sama dengan Suriyah tersebut, mengaku tidak tahu penyebabnya. Ia menyebut, sejak harga naik, pembeli cabai berkurang yang juga berpengaruh terhadap penghasilan. Sedang menurutnya, harga cabai rawit hijau, harganya juga naik.

“Kalau yang merah full (semua) Rp 80 ribu. Kalau yang hijau hanya Rp 25 ribu. Ikut naik juga, tapi tidak seberapa. Sebelumnya, cabai hijau Rp 20 sampai 22 ribu,” katanya singkat di kios jualan sayurnya di Pasar Baru.

Sementara di tempat yang sama, Maksum (63) pedagang cabai mengatakan, berkurangnya stok cabai karena faktor cuaca. Di sejumlah daerah seperti Bojonegoro, Lumajang ke Timur sampai Banyuwangi, bahkan di Pulau Madura stok berkurang. Dimungkinkan, petani gagal panen, karena faktor cuaca.

“Biasanya saya kirim 2 pick-up ke Surabaya, sekarang hanya satu pick-up. Itupun isinya tidak penuh. Biasanya pick-up ngangkut 1 sampai 1,5 ton. Sekarang tidak sampai 5 kwintal atau 500 Kg. Cabai yang kami dapatkan dibawah 5 kwintal itu, kami bagi-bagi ke beberapa pedagang,” tandasnya.

Akibatnya, pedagang hanya kebagian stok sedikit. Sedang kebutuhan cabai per harinya sampai 5 ton. Cabai sebanyak itu, dipasok ke pedagang di sejumlah daerah se Jawa Timur. Bapak yang tinggal di Gending, Kabupaten Probolinggo tersebut tidak mengetahui, kapan suplai cabai dari petani, normal seperti sediakala.

“Kami berharap segera normal kembali. Kami mendatangkan cabai dari Madura dan Besuki, Bondowoso. Kalau dari kota lain, tidak ada. Kami tidak disuplai oleh pedagang dari daerah lain,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga Minggu (8/7) pukul 19.00 WIB, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo, Gatot Wahyudi, belum ada komentar. Saat dihubungi selulernya, bahkan pesan singkat yang dikirim melalui WA, juga belum dijawab. Terlihat centang dua berwarna hitam. Tandanya, pesan hanya sampai, tapi tidak dibaca. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *