Hanya Pramuka Jadi Pengawas Partisipatif Pilwali Probolinggo, Lainnya Bubar

by
Suef Priyanto, Ketua Panwaslu Kota Probolinggo (pegang mic), dalam acara Sosialisasi Partisipatif, Minggu (13/5/2018). (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Sejumlah santri yang telah mendeklarasikan turut mengawasi Pilkada serentak 27 Juni nanti, bubar. Tak hanya itu, sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) yang akan ikut memantau dan mengawasi jalannya Pilwali dan Pilgub, bernasib sama. Mereka membubarkan diri sebelum bekerja.

Pernyataan tersebut disampaikan Suef Priyanto, Ketua Panwaslu Kota Probolinggo, dalam acara Sosialisasi Partisipatif, Minggu (13/5/2018) sekitar pukul 08.00 WIB di Alun-alun setempat. Turut diundang dalam acara Pramuka Mengawasi itu, seluruh Paslon yang akan bertarung di Pilwali, Partai Politik (Parpol) peserta Pemilu 2019.

Dari 16 parpol yang diundang, hanya tiga partai yang hadir yakni Partai Golkar, PDIP dan Demokrat. Sedang untuk Paslon, yang hadir hanya Calon Wakil Walikota nomor urut 4 yakni, Muhammad Soufis Sobri beserta istrinya. Dalam sambutan pembukaannya, Suef berharap, agar pramuka tidak senasib dengan dua pengawas partisipasif sebelumnya, yang sudah membubarkan diri.

Menurutnya, Pengawas Pesantren membubarkan diri karena santri tidak banyak memiliki waktu melakukan kegiatan di luar pesaantren. Waktunya banyak dihabiskan belajar dan melakukan kegiatan di dalam pesantrren. Sedang pengawas, sifatnya mobile. Sedang pengawas OKP, bubar dengan sendirinya, karena diketahui, anggotanya banyak yang menjadi tim sukses.

“Ya, akhirnya mereka bubar dengan sendirinya. Mudah-mudahan pengawas pramuka ini, tidak bubar,” harap Suef.

Disebutkan, pramuka yang sudah mendaftar menjadi pengawas partisipatif berjumlah sekitar 200 pelajar, yang berasal dari pramuka sejumlah SMA sederajat. Mereka bertugas mulai hari ini (dikukuhkan sebagai pengawas) dan berakhir hingga pilkada serentak selesai. Tugasnya, mencatat pelanggaran dan melaporkan ke Panwaslu.

“Yang penting kalian bisa mengatur waktu. Jangan sampai pelajaran sekolah, terganggu,” pintanya dalam sambutannya.

Usai membuka sosialisasi, Suef mengatakan, pelajar yang menjadi relawan pramuka mengawasi belum diberi bekal tentang bagaimana menjadi pengawas. Pihaknya dalam waktu dekat akan mengunpulkan pramuka mengawasi untuk bekal selama menjadi pengawas Pilkada. “Secara teknis, mereka belum tahu. Makanya mereka akan dikumpulkan lagi untuk dibekali teknisnya,” tandasnya.

Ditanya soal jumlah, Suef mengaku jumlah pramuka mengawasi dengan TPS tidak sama. Jumlah pengawas pramuka 200-san orang, sedang TPS se Kota Probolinggo ada 379 TPS. Dengan perbedaan jumlah tersebut, pihaknya akan mengatur bagaimana Pramuka bisa mengawasi Pilkada.

“Nanti kita atur. Mereka mobile, jadi keliling bergantian. Misalnya TPS di satu kelurahan ada 8. Sedang pramuka hanya 5 orang. Mereka nanti digeser bergantian,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *