Di Madiun, Acara Selamatan Diduga Disusupi Kampanye Cawabup

by
Sukiman, salah satu Cawabup yang berpasangan dengan Rio, saat memberi arahan kepada warga agar memilih dirinya saat pelaksanaan pencoblosan 27 Juni 2018 mendatang. (FOTO: S.RUD)

MADIUN, FaktaNusantara.com – Ragam cara dilakukan Paslon Bupati dan Wakil Bupati, untuk menarik simpati masyarakat. Agar disaat pencoblosan, dirinya meraup suara sebanyak-banyaknya. Namun, bagaimana dengan jika acara Widakan (selamatan orang yang sudah meninggal), disusupi kampanye?.

Ini seperti yang terjadi sebuah rumah mantan Sekretaris Desa Buduran, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Pada Kamis (29/3/2018) malam, mantan Sekdes ini mengundang banyak orang, termasuk tetangganya, untuk menghadiri Widakan. Istilahnya, kirim do’a bagi almarhum. Nah, di acara itu, hadir juga salah satu Calon Wakil Bupati Madiun nomor urut 2, yakni Sukiman atau dikenal Pak Su.

Mulaya, acara berjalan hikmad seperti layaknya tradisi kirim doa. Namun, berbeda saat Cawabup yang berpasangan dengan Rio ini, diberi kesempatan berbicara, usai acara kirim doa. Disitulah, nuansa kampanye sangat terasa. Disitu, Pak Su berusaha memantapkan semua warga yang hadir, untuk memilihnya saat pelaksanaan pencoblosan nanti.

“Dulu, di Pilbup tahun 2013, saya mencalonkan bupati kalah dan diisukan sakit. Alhamdulillah padahal saya sehat walafiat. Setelah kalah, saya ikut anak di Jakarta. Sebenarnya ingin menikmati pensiun saja. Tapi, tiba-tiba diajak Mas Rio mendapingi Bupati dan saya sebagai Wakil Bupatinya,” ujar Pak Su.

Saat itu, lanjutnya, dirinya dengan pasanganya tinggal di Madiun bagian utara semua. Sehingga Kecamatan Dolopo dan Kecamatan Kebonsari kalah. “Kalau sekarang pas. Saya di Mejayan sedangkan Mas Rio tinggai di Dolopo. Jadi bisa klop, satu di utara dan satu di selatan,” lanjut Cawabup dari Paslon berakronim Rio – Pas ini.

Kondisi acara kirim doa namun bernuansa kampanye ini, rupanya malah mendapat respon miring dari sejumlah warga yang hadir. “Ini sama saja dengan kampaye terselubung. Acara selamatan kok ditumpangi kampaye. Harusnya bersikap sportif dalam hal ini. Jangan dicampur aduk,” gerutu Lalang jengkel, usai acara.

Semestinya, lanjut Lalang, para paslon terikat dengan aturan di Peraturan KPU (P-KPU) No 4 tahun 2017 tentang Kampaye Pilkada 2018, “Beberapa larangan kampaye kan sudah diatur. Ini sama saja kampanye diluar jadwal yang ditetapkan. Aturannya kan sudah terang benderang, tapi ada saja paslon yang melanggar,” ucapnya. (s.rud/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *