Daging Ayam Langka, Pemkot Probolinggo Diminta Fasilitasi Pedagang dengan Peternak

by
Edi Santosa, salah satu pedagang besar, yang mensuplai ayam ke sejumlah tengkulak, saat hearing di Komisi 2 DPRD Kota Probolinggo dan Dinas terkait, Selasa (16/5/2018). (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Pemkot Probolinggo diminta untuk memfasilitasi pedagang ayam pedaging dengan peternak besar atau penyedia ayam. Mengingat, sampai hari ini ayam masih langka, lantaran pedagang ayam besar (penyuplai) tidak dapat ayam. Sebab, stok mereka dibatasi, bahkan dikurangi. Peternak, lebih mementingkan pedagang di daerahnya.

Permintaan tersebut disampaikan Edi Santosa, salah satu pedagang besar, yang mensuplai ayam ke sejumlah tengkulak, di depan Komisi 2 DPRD setempat dan Dinas terkait, Selasa (15/5/2018) pukul 13.00 WIB. Ia menyampaikan hal tersebut, lantaran sejumlah pedagang kesulitan mendapatkan ayam. Akibatnya, hingga kini daging ayam broiller masih langka dan korbannya adalah masyarakat.

Jika kondisi seperti itu dibiarkan, bukan tidak mungkin harga akan terus meningkat, terutama jelang lebaran, sedang disisi lain masyarakat butuh. Disebutkan, rata-rata kebutuhan ayam sekitar 20 ton setiap hari. Dan kebutuhan tersebut akan bertambah empat kali lipat, ketika lebaran kurang 10 hingga 10 hari paska lebaran. “Kalau kami tidak difasilitasi, terus kami dapat dari mana,” tandasnya.

Sebagian besar Edi dan suplier yang lainnya, kulakan ayam ke daerah lain, lantaran di Kota Probolinggo, tidak ada peternak besar. Sementara, peternak luar kota lebih mengutamakan pedagang di daerahnya. Dengan demikian, para pedagang asal Kota Probolinggo, kesulitan memenuhi permintaan pasar.

“Rata-rata begitu. Surabaya misalnya, peternaknya mengutamakan pedagang Surabaya. Sedang kami diberi sedikit,” tambahnya.

Jalan satu-satunya untuk memenuhi permintaan, Pemkot harus turun tangan dengan cara memfasilitasi. Pemkot ke peternak besar bisa meminta jatah sama dengan pedagang daerah lain. Sehingga, kebutuhan daging ayam akan terpenuhi. Jika pemkot tidak memfasilitasi, dipastikan, ayam bertambah langka, dampaknya harga akan melonjak tinggi.

“Selain masyarakat, pedagangnya juga pusing. Karena kami dikejar-kejar oleh tengkulak. Sementara tengkulak, dituntut pembeli,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Produksi Pengolahan dan Pemanfaatan Hasil Peternakan pada Dispertan Suryanto Soares. Ia sepakat dengan pernyataan Edi kalau di wilayahnya tidak ada peternak besar, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Menurutnya, di Kota Probolinggo ada dua peternak yang produksinya hanya 12 ribu ekor ayam. Yakni, di Kelurahan Kademangan 7 ribu ekor dan di Triwung Kidul produksinya hanya 5 ribu ekor. “Hanya itu, tidak ada tambahan. Banyak yang tutup karena sering didemo,” tandasnya.

Dengan demikian, kedua peternak tersebut, tidak akan mencukupi kebutuhan ayam di wilayahnya yang diatas 20 ton setiap harinya. Ia kemudian menjelkaskan, salah satu penyebab ayam turun produksinya, karena pemerintah pusat melarang ayam disuntik antibiotik. Padahal, antibiotik tersebut mempercepat pertumbuhan dan produksi ayam.

“Peraturan Mentri Pertanian (Permentan) No 14/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Kalau tidak disuntik antibiotik, produksi turun dan perkembangan ayam, lambat. Jadi berpengaruh juga pada panennya,” tambahnya.

Kegalauan dan kekhawatiran distributor ayam pedaging, terjawab oleh pernyataan Gatot Wahyudi, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan dan Perindustrian (DPUPP). Menurutnya, ia telah berkirim surat ke Pemerintah Provinsi. Isinya, meminta Pemprov untuk menfasilitasi suplier ayam di wilayahnya.

“Sudah. Kami sudah layangkan suratnya. Tapi belum dijawab. Mudah-mudahan secepatnya direalisasikan,” ujarnya singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *