Berebut Dapat Blanko, Begitu Mendaftar di SMPN 3 Probolinggo Sudah Tutup

by
Suasana pendaftaran hari pertama di SMPN 3 Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Puluhan siswa baru yang mendaftar di SMPN 3 Kota Probolinggo, kecewa. Sebab, pendaftaran ditutup oleh Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) setempat. Padahal, masih banyak siswa yang belum mendaftar di sekolah tersebut.

Sedang mereka sudah memegang blanko pendaftaran yang didapat dengan cara rebutan. Belum diketahui, apakah panitia PPDB SMPN 3 akan memperpanjang masa pendaftaran sesuai ketentuan. Diketahui, masa pendaftaran siswa baru berlangsung 3 hari, yakni dimulai, Senin (2/7) sampai dengan Rabu (4/7/2018).

Saat dikonfirmasi di kantornya, Kepala SMPN 3, Sumantri mengaku, pendaftaran ditutup, karena mengikuti aturan. Disebutkan, pendaftaran dimulai pukul 08.00 dan ditutup tepat pukul 12.00 siang. Pendaftaran dibuka kembali, keesokan harinya. Dijelaskan, para orang tua murid yang ingin menyekolahkan putra-putrinya di SMPN 3, bisa mendaftar lagi hari ini, Selasa (3/7/2018).

Menurutnya, pendaftaran siswa baru ditutup Rabu (4/7) pukul 12.00. Karenanya, walimurid diminta untuk datang lagi ke sekolahnya. Bagi yang sudah mendapat blanko pendaftaran harap dibawa, sedang bagi mereka yang belum, diharap meminta pada panitia PPDB.

“Memang kami tutup. Soalnya aturannya seperti itu. Pendaftaran dibuka pukul 08.00 dan ditutup pukul 12.00. Besok kami buka lagi. Kan pendaftarannya tiga hari,” ujarnya.

Disebutkan, hari pertama PPDB itu, sudah ada 150 orang yang sudah mendaftar. Pihaknya tidak bolah menolak siswa yang mendaftar di sekolahnya. Dengan demikian, berapapun yang mendaftar, tetap akan diterima asal tidak melebihi masa pendaftaran. Hanya saja, tidak seluruh siswa diterima, mengingat ada kuota yang membatasi.

“Kuota sekolah kami 224 siswa. Jadi siswa baru yang diterima, sebanyak itu,” tandasnya.

Siswa baru nantinya yang diterima diprioritaskan, mereka yang bertempat tinggal sekitar atau dekat dengan sekolah. Mengingat, sistem zonasi sudah diberlakukan mulai tahun ini. Siswa yang diterima karena alasan zonasi, komposisinya peringkat teratas, yakni 70 persen. Urutan kedua jalur khusus sebanyak 20 persen, sedang 10 persen sisanya, jalur prestasi.

“Kriteria sistem penerimaannya seperti itu. Sudah ada siswa baru yang diterima. Mereka melalui jalur khusus. Tapi jumlahnya tidak lebih dari 10 anak,” ujarnya.

Mereka yang diterima melalui jalur khusus, adalah siswa yang berkebutuhan khusus seperti cacat. Selain itu, putra-putri pengajar atau guru serta pegawai TU SMPN 3. Sedang siswa yang melalui jalur prestasi masih belum ada yang diterima. Meski P2DB tahun ini memakai sistem zonasi, Pemkot belum menghapus tes atau ujian bagi siswa baru.

“Siswa baru tetap harus mengikuti test. Tapi, hasil test-nya diabaikan. Sejelek apapun nilai testnya, kalau domisilinya dekat dengan sekolah, pasti diterima,” tambahnya.

Sumantri mengaku setuju dengan sitem Zonasi. Karena dengan sistem seperti itu, tidak ada lagi sekolah favorit. Pihak sekolah tidak bisa memilih murid baru karena faktor lain, seperti nilai UN atau rapornya. Mereka menerima siswa baru, hanya berdasarkan domisili tempat tinggal siswa.

“Kami setuju dengan sistem ini. Karena tidak ada dominasi siswa pinter dan ekonomi mapan. Bagaimanapun kondisinya, kalau dekat dengan sekolah, ya harus diterima,” pungkasnya. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *