Berawal Bantu Sebrangkan Kendaraan, Mbah Parman Ketiban Berkah di Jalanan

by
Mbah Parman saat menghitung uang receh yang didapat dari sukarelawan pengatur jalan. (FOTO: IRW)

SIDOARJO, FaktaNusantara.com – Berawal dari niat membantu sesama saat menyeberang di jalan protokol Krian – Legundi, Parman (92) warga Dusun Jrebeng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, malah ketiban berkah. Betapa tidak, dengan menjadi sukarelawan pengatur lalulintas (Supeltas) di lokasi, dirinya mampu meraup pundi-pundi uang tanpa ia minta.

“Saya ikhlas dan tidak ada pamrih apa-apa. Niat saya tulus, dikasih atau tidak dikasih, ya ngagk apa-apa, yang penting jalanan lancar dan tidak macet,” tutur kakek asal Lumajang ini kepada FaktaNusantara.com, Jumat (9/3/2018).

Mbah Parman bercerita, mulanya, menjadi Supeltas hanya kebetulan saja. Saat itu, jalan jurusan Krian – Legundi sedang dibangun, dan menyebabkan kondisi lalulintas semrawut. Kondisi ini membuat hati Parman tergerak dan berinisiatif mengatur lalulintas, tanpa berharap imbalan. Hingga saat ini, sekitar selama 4 tahun, Parman tak berhenti mengabdi jadi Supeltas.

“Kasihan kalau nggak ada yang membantu menyeberangkan, karena jalan dari dusun Jrebeng ini posisinya menanjak. Kalau ada motor atau mobil yang dari kampung menyebrang atau ke jalan protokol disaat jalan lagi macet, harus ngerem di tanjakan. Kadang, ada juga kendaraan yang mblondor mundur. Kasihan kalau sampai terjadi kecelakaan. Bisa bantu antar sesama ini sudah senang sekali,” ungkapnya.

Dirinya juga tak menyangkal jika sempat ditegur Polantas, soal terlama lama saat memberhentikan kendaraan dari arah Legundi dan dari arah Krian, sebab menyeberangkan kendaraan di pertigaan Jrebang. “Tapi bisa diatasi, jadi ya nggak apa-apa. Lha, karena volume kendaraan dari kampung lumayan banyak, terutama pada jam kerja. Akibatnya jalan utama jadi sedikit terhambat,” ceritanya.

Soal penghasilan jadi Supeltas, dirinya mengaku lebih dari cukup untuk sekedar memberi nafkah pada keluarganya. Meski yang didapat uang receh, dirinya tak mempermasalahkan. Sebab, warung kopi Kang Syaiful, langganannya, selalu siap menjadi tempat penukaran.

“Kalau pagi mulai dari pukul 05.30 sampai pukul 11.30 WIB, rata-rata mendapat Rp 125 ribu. Jika sore mulai dari pukul 13.00 hingga pukul 17.00 WIB, kadang dapat 150 ribu. Ya ini sudah lebih dari cukup. Tapi yang terpenting adalah bisa membantu sesama,” ungkap mbah Parman saat menukarkan uang receh hasil dari aktivitas Supeltas. (irw/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *