Bayi Kembar Siam Parapakus di Probolinggo Tak Bisa Dipisah, Ini Penyebabnya

by
Kondisi bayi kembar siam parapakus, saat dirawat di RSUD Tongas, Probolinggo. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Bayi kembar siam yang dirawat di RSUD Tongas, Kabupaten Probolinggo, tidak bisa dipisahkan alias tidak bisa dioperasi pisah. Sebab, jantung salah satu bayi lemah dan jaringan pembuluh darah menyatu. Dengan begitu, bayi yang terlahir dari pasangan suami istri yang berinisial ST (28) dengan SR (26), tidak perlu dirujuk ke RSUD dr Sutomo, Surabaya

Bayi berjenis perempuan yang belum diberi nama tersebut, diminta dirawat di RSUD Tongas saja. Keputusan tersebut, disampaikan Ketua Tim Pusat Penanganan Kembar Siam Terpadu RSUD dr Sutomo dr Agus Harianto, Rabu (18/4/2018) sekitar pukul 12.00 WIB di RSUD Tongas.

Menurutnya, keputusan itu diambil, setelah tim dokter yang berjumlah 4 orang terdiri dari dokter berbagai spesialis, melakukan penelitian dan evaluasi pada diri si jabang bayi. Hasilnya, salah satu bayi jantungnya lemah, sehingga sirkulasi darah harus dibantu jabang bayi yang jantungnya normal.

Jika dilakukan operasi pemisahan, maka akan beresiko kematian terhadap bayi, terutama bayi yang memiliki jantung lemah. Selain persoalan jantung, pembuluh darahnya menyatu dan aliran darahnya saling menyilang.

“Ini kembar siam Parapakus. Para itu menyamping, Pakus itu menyatu. Rumah sakit di dunia pun belum ada yang bisa memisahkan kembar siam jenis ini,” tambahnya.

Karenanya, ia meminta kembar siam yang terlahir dari rahim warga Desa/Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo tersebut, tidak perlu dirujuk ke RSUD dr Sutomo, Surabaya. Karena perawatan di RSUD dr Soetomo, sama saja dengan RSUD Tongas, bahkan jika dirawat di RSUD Tongas, tim dokter dan tim kesehatan lebih intensif menangani sang bayi. “Kami siap membantu RSUD Tongas. Cukup konsultasi ke kami, kami nanti yang akan mengarahkan,” tandasnya.

Kendati tidak bisa dipisahkan karena berbagai pertimbangan, Agus dan tim dokter spesialis yang lain menjamin bayi bisa hidup. Hanya saja, mereka tidak memastikan berapa lama sang bayi akan bertahan hidup. Yang penting, tim dokter memantau kesehatan jantung dan segera berkonsultasi dan berkoordinasi dengan tim penanganan kembar siam RSUD dr Soetomo.

“Jika terjadi masalah dengan jantung, segera berkoordinasi dengan kami. Kami nanti yang akan mengarahkan mengenai penanganannya dan pemberian obetnya,” tambahnya.

Saat ditanya, bagaimana jika operasi pemisahan dilakukan, meski ada bayi yang dikorbankan (meninggal), Agus menegaskan tidak akan pernah melakukan. Karena mengorbankan nyawa demi mempertahankan nyawa yang lain, hukumnya tidak boleh di dunia kedokteran, dan di agama.

“Di dunia kami, tidak ada kata-kata dikorbankan dan itu tidak boleh. Kalau kami menghilangkan nyawa, maka kami punya hutang nyawa. Biarkan bayi itu hidup, karena mereka memiliki hak untuk hidup dari Tuhan,” pungkasnya.

Semantara itu, kedua orang tua bayi kembar siam tersebut, enggan berkomentar banyak. Mereka pasrah dengan keputusan yang diambil tim penanganan bayi kembar siam RSUD dr Ssutomo. Mengingat, mereka mempercayakan penuh kepada tim tersebut. Terkait dengan perawatan, ia bersedia menemani dan menunggui anaknya di RSUD hingga pihak rumah sakit mengizinkan pulang.

“Kami pasrah saja ke dokter yang menangani. Mudah-mudahan anak kami bertahan hidup dan perawatannya lancar,” ujarnya.

Perlu diketahui, di RSUD Tongas telah dirawat bayi kembar dempet yang dilahirkan dari seorang perempuan asal Lumbang, dengan cara Caesar pada Selasa (10/4/2018) minggu lalu. Bayi tersebut dikabarkan dempet di bagian dada dan perut, dua kepala, empat tangan, sedang kakinya hanya dua. Bayi yang belum diberi nama tersebut hingga kini dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *