Aki Lampu dan Sirine Perlintasan KA Tak Diperbaiki, Ini Alasan Dishub

by
Tanpa lampu dan sirine peringatan, perlintasan KA tanpa palang pintu ini, akhirnya dijaga petugas yang direkrut PT KAI Daop IX, selama 21 hari. (FOTO: MOJO)

PROBOLINGGO, FaktaNusantara.com – Peringatan bagi pengendara dan pejalan kaki yang melintas di perlintasan Kereta Api (KA) tanpa palang pintu di jalan S Parman, sudah tidak lagi menyala. Sebab, Early Warning System atau tanda peringatan dini yang berlokasi di Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo tersebut, tak berfungsi.

Penyebabnya, Aki sebagai sumber nyala lampu dan sirine, hilang dan hingga kini belum diketahui dan ditangkap pelakunya. Diperoleh informasi, aki tanda peringatan dini tersebut, raib tahun yang lalu. Dinas Perhubungan sebagai leading sektornya mengaku, tidak punya dana untuk membeli aki sekaligus memperbaikinya. Karenanya, sampai saat ini dibiarkan tidak menyala.

Kondisi seperti itu diungkap Sumadi, Kepala Dishub setempat, Kamis (7/6/2018) siang di kantornya. Pihaknya akan mengusahakan perbaikan sekaligus pembelian power (Aki) di penghujung tahun. Ia akan mengajukan dana di P-APBD atau PAK (Perubahan Anggaran Keuangan). “Mudah mudahan tahun ini pengajuan kami di PAK nanti, di-ACC. Jadi bisa langsung digarap,” ujar Sumadi.

Ia menyebut, untuk perbaikan dan membeli power Rp 50 juta dinilai masih kurang. Menurutnya, angka Rp 50 juta keatas tersebut tidak sedikit. Apalagi dinasnya tidak memiliki dana sebesar itu. Karenanya, Sumadi akan mengajukan di P-APBD tahun ini. “Kata siapa murah. Rp 50 juta masih kurang. Makanya kami mengajukan di PAK nanti,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi agar tidak ada pengendara dan pejalan kaki yang menjadi korban, pihaknya telah memasang tanda peringatan berupa banner. Isinya, lanjut Sumadi, meminta warga berhati-hati dan menoleh ke kanan dan kiri, sebelum melintas rel KA. “Sudah, kami sudah membuat rambu peringatan dari banner,” pungkasnya.

Hasil pantauan di lokasi, apa yang dikatakan Sumadi tidak seluruhnya benar. Tanda peringatan berupa banner seperti yang dikatakan, ternyata tidak ada. Yang ada hanya jadwal KA, yang diletakkan sebelum perlintasan. Jadwal yang posisinya di pintu masuk tersebut, kini tinggal satu, yakni di timur rel. Sedang jadwal KA di barat rel robek tak tersisa. Warga setempat tidak ada yang mengetahui, siapa yang merobek jadwal tersebut.

Meski tidak ada tanda peringatan, warga sekitar, pejalan kaki, dan pengendara yang akan lewat di sana tidak perlu khawatir, sebab sudah ada petugas jaga. Mereka yang akan menghentikan kendaraan dari dua arah, saat KA hendak melintas. Petugas tersebut, bekerja mulai pagi hingga dini hari. Salah satunya, bernama Wahyudi (25) warga Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Ia mulai bertugas menjaga perlintasan tanpa palang pingu, sejak Rabu (6/6/2018) kemarin. Menurutnya, perlintasan itu dijaga dua orang bergantian. Ia bersama rekannya direkrut dan digaji oleh PT KAI Daops IX selama 21 hari. Yakni sejak Rabu kemarin hingga beberapa hari setelah lebaran.

“Tugas kami di sini hanya 21 hari. Kami tidak tahu, apakah semua perlintasan tanpa palang pintu ada petugasnya,” katanya singkat. (mojo/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *