12 Tahun Mengabdi, Begini Nasib Pemungut Sampah RSUD Kertosono Nganjuk

by
Syafaat, petugas pemungut sampah RSUD Kertosono Nganjuk, beserta istrinya. (FOTO: SIS)

NGANJUK, FaktaNusantara.com – Menjadi tukang pungut sampah di RSUD Kertosono, bukanlah sebuah cita-cita Syafaat (52), warga yang tinggal di Desa Pucuk, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk. Namun, nasib yang kurang beruntung lah, membuat dirinya rela mengais rezeki di sana.

Bersama Srianik, istrinya dan kedua putranya Fandi Syafaat (17) dan Ahmad Rahman Ilmi Syafaat, dirinya hidup dalam sebuah rumah sederhana, di lorong sempit. Ya, gaya hidup yang jauh dari kemewahan. Bisa dikatakan, sangat kekurangan, ia lakoni dengan tabah.

Syafaat mengatakan, dirinya menjadi pemungut sampah di RSUD Kertosono sejak tahun 2005 lalu. Ketika itu, RSUD Kertosono masih di jalan Supriadi Kertosono atau RSUD yang lama.

Awal menjadi pemungut sampah, dirinya hanya diberi honor Rp 250 ribu tiap bulan. Tiap tahunnya, ada kenaikan honor sekitar Rp 50 ribu. Peralatan gerobak sampah dan motor penariknya, semua dia sendiri yang menyiapkan, termasuk bahan bakar motor. Meski kondisi begitu, ia pun tak mengeluh.

“Semua peralatan dari saya. Bahkan, bahan bakar juga dari saya. Tidak pernah mendapatkan dari RSUD. Jadi honor sekecil itu, cukup atau tidak cukup, ya juga dipakai untuk perawatan gerobak dan beli BBM,” tuturnya.

Tahun 2013, praktis 8 tahun, Syafaat bekerja tanpa perjanjian kontrak kerja. Ia kemudian menerima surat kontrak kerja dari Direktur RSUD di tahun ke-9 dirinya mengabdi. Hingga RSUD menjadi bagus lantaran pindah di lahan bekas terminal bus Kertosono, ia pun masih melakoni tugas sebagai pemungut sampah

Hingga pengabdian menginjak 12 tahun, tepatnya di akhir bulan Desember 2017, kontrak kerjanya belum diperbarui. Meski begitu, pihak menejemen RSUD memberitahu, jika dirinya mulai bulan Januari 2018 tetap menjalankan pekerjaannya, sambil nunggu surat kontrak tahunannya terbit.

Namun, hingga akhir Februari 2018, honor sebagai tukang pemungut sampah tak kunjung ia terima. Alasannya, masih menunggu kontrak terbit.

“Saya tetap menjalankan tugas angkut sampah sampai akhir bulan Februari 2018. Selama dua bulan itu juga belum dikasih honor. Honor tiap bulan 850 ribu. Katanya nunggu kontrak terbit baru dibayar,” ujar Syafaat, diangguki Srianik.

Syafaat pun rela menunggu, namun, pihak managemen malah mengatakan kalau kontrak kerja dirinya sudah tidak diperpanjang lagi alias diputus. Sudah diputus kontrak sepihak, honor selama dua bulan pun tidak pernah diberikan hingga sekarang.

“Memang di RSUD Kertosono ada oknum dengan inisial A dan Y yang sangat kuasa mengambil kebijakan apapun. Dua belas tahun, bukan waktu yang pendek untuk mengabdi, tapi penghargaan dan honor dua bulan juga tidak pernah ada,” pungkas Syafaat. (sis/fn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *